Chapter 334 – Sage Terkuat, Menghasut Naga

(…Ini saatnya.)

Pintu masuk kota merupakan satu-satunya tempat dimana terdapat reaksi mana manusia yang tersisa.

Ada kerumunan orang-orang yang mencoba keluar dari gerbang kota … tapi itu akan selesai tepat pada waktunya.

Selama waktu ini … Aku mulai bergerak.

Aku menarik pedangku dan bergerak menuju ke titik buta Zadokilgias.

Lalu … Aku menebas leher Zadokilgias sambil sepenuhnya menyembunyikan kehadiranku.

Tebasan ini akan langsung membunuh Zadokilgias yang hanya sekuat iblis biasa jika itu menyangkut soal  fisiknya.

–Jika itu mengenai target, itulah yang akan terjadi.

“Sangat lambat.”

Zadokilgias bergumam sambil mengeluarkan sihir pertahanan dalam jumlah minimum untuk menggeser pedangku tanpa melihat ke arahku.

Bahkan sihir pertahanan yang lemah pun mampu menggagalkan tebasan sebuah pedang jika itu diposisikan secara diagonal terhadap tebasan itu.

Itu mungkin terdengar mudah secara teori … Tapi mempraktikkannya membutuhkan kemampuan kontrol sihir yang sangat tinggi.

Dan iblis ini melakukannya tanpa melihat arah pedang …

Sepertinya skill Zadokilgias belum merosot jauh bahkan setelah ia bereinkarnasi.

Dan di sini aku mengharapkan bahwa kemampuan itu akan sedikit jatuh.

“…Cuma satu?”

Zadokilgias tidak melihat ke arahku bukan karena ia lengah.

Sebaliknya – dia berada di bawah kewaspadaan maksimum.

Terutama terhadap calon anggota unit penaklukan yang menyelinap di antara para pengungsi.

Pada kenyataannya … Unit-unit penakhlukan iblis masa lalu akan bersembunyi di antara para pengungsi ini dan meluncurkan serangan mereka saat Zadokilgias mengalihkan perhatiannya ke pedangku.

Punggungnya yang relatif tak berdaya itu akan terkena serangan jika aku berhasil menarik perhatiannya.

Itu juga akan berarti kematianku akan lebih cepat… Namun, saat itu pion pengorbanan bukanlah hal yang tidak biasa dalam pertarungan melawan iblis yang tidak dapat dikalahkan di garis depan.

“… Tidak ada bala bantuan huh?”

Novel ini diterjemahkan oleh 4scanlation.com, Mohon tidak mengcopy/memirror hasil terjemahan di web ini tanpa izin

Zadokilgias berdiri diam sambil menggumamkan itu.

Tapi itu bukan berarti dia tidak melakukan apa-apa.

Mempertahankan posisi sama halnya dengan mempertahankan tingkat siaga tertinggi melawan penyergapan.

Di sisi lain, aku juga belum bergerak sejak aku menarik pedangku kembali setelah serangan itu digagalkan.

Dalam kehidupan masa laluku, awal pertarunganku melawan Zadokilgias juga bisa disimpulkan sebagai [Pertarungan Tanpa Bergerak].

Keheningan ini persis merupakan bukti dari bentrokan teknik.

Melakukan serangan secara alami itu berarti sama halnya dengan menurunkan pertahananmu.

Dengan kata lain, menyerang juga berarti menciptakan celah.

Celah kecil yang diciptakan dari sihir tidak perlu dikhawatirkan dalam pertempuran biasa … Tapi dalam pertarungan antara mereka yang memiliki kemampuan yang sama, satu kesalahan sesaat semacam itu merupakan celah antara hidup dan mati.

Zadokilgias telah mengambil postur yang memungkinkannya untuk melawan setiap serangan dari arah mana saja dan kapan saja.

Siapa pun yang melakukan serangan pertama akan segera dilawan balik.

Terhadap itu, aku pun mengambil sikap agresif.

Jika Zadokilgias menunjukkan celah sekecil apa pun, aku akan menghancurkan jalan keluarnya dengan sihir dan memotongnya saat itu juga.

Berada tepat di belakang Zadokilgias, aku memiliki keunggulan.

Namun … Zadokilgias tidak akan menunjukkan celah apa pun.

Meluncurkan serangan sederhana di sini akan membuatku diserang balik sampai mati.

Semenit berlalu sejak kebuntuan ini dimulai.

“Tidak ada bala bantuan … huh.”

Zadokilgias bergumam setelah memastikan bahwa semua pengungsi telah meninggalkan gerbang kota.

Sekarang tidak perlu khawatir soal kemungkinan penyergapan dari unit penakhlukan iblis yang bercampur di antara para pengungsi, akulah satu-satunya orang yang tersisa yang perlu dikhawatirkan.

Perlahan-lahan berbalik ke arahku.

Tanpa sedikitpun menunjukkan celah.

“Aku mengerti. Aku menganggap kau hanyalah  seorang anak kecil … Kesalahan yang sangat besar. Aku tidak dapat menemukan celah.”

Zadokilgias menatapku ketika mengatakan itu.

Namun pandangannya diarahkan pada anggota tubuhku, bukan mataku.

Bukan hanya untuk mewaspadai pergerakanku … Tapi juga untuk mencari celah sekecil apa pun sehingga dia bisa segera beralih untuk menyerang.

(… Aku senang Ruli dan Alma tidak ada di sini.)

Mana Zadokilgias benar-benar berada pada tingkat yang sama dengan iblis normal.

Namun … terlihat jelas dari jarak ini. Iblis ini hanya ada di dimensi lain.

Ruli dan Alma akan langsung dibunuh seandainya mereka berada dekat sini.

Bahkan aku akan kehilangan kepalaku saat aku lengah.

Situasi ini hanya akan melemahkan sarafku jika itu terus berlangsung.

Warga kota telah selesai berlindung.

Mari kita segera mulai rencananya.

Zadokilgias telah menunggu akhir evakuasi untuk menghilangkan kemungkinan adanya penyergapan.

Namun – Zadokilgias bukanlah satu-satunya pihak yang menunggu saat itu.

Begitu juga aku.

Untuk memungkinkan Iris menjadi liar tanpa memperhatikan lingkungannya.

“Iris, lakukanlah.”

“Aku mengerti!”

Saat menerima instruksi dariku, Iris melayang di udara.

Lalu dia menukik turun dari langit – dan mengayunkan cakarnya dengan sekuat tenaga ke arah Zadokilgias.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *