Chapter 108.1

(Sudut Pandang  Cody)

Setelah memastikan bahwa Finnegan telah sadar kembali, Cody meninggalkan ruangan bersama dengan Harold sambil merasa malu dan tak berguna. Dia menunggu suasana menjadi sedikit lebih lunak sebelum menjelaskan semuanya kepada Finnegan dan istrinya.

Setelah kembali ke ruang tamu, dia duduk di kursi dan mendesah panjang.

Saat melihatnya seperti ini, Harold berbicara kepadanya dengan nada bicaranya yang biasa, tanpa memedulikan keadaan pikirannya.

“Sudah puas sekarang?”

“Ah, baiklah … Sejujurnya, aku ingin menyelesaikan ini tanpa membawa banyak masalah, tapi di sinilah kita sekarang …”

“Kau hanya bisa menyalahkan dirimu sendiri karena menjadi orang lemah.”

“Itulah aku. Maaf… dan sungguh terima kasih. “

Cody membungkuk dalam-dalam. Tidak hanya dia akhirnya membuat Harold membantu Finegan, tapi dia bahkan membuatnya menggunakan pedang yang dapat menghabiskan masa hidupnya. Karena dia tahu tentang aspek yang dimiliki pedang ini, Cody ingin menangani situasi ini dengan tangannya sendiri. Dia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa kali ini dia tidak akan bergantung pada Harold.

(Pada akhirnya, aku masih menyerahkan segalanya kepadanya. Aku tidak tahu apakah aku harus mengatakan bahwa aku ini tidak tahu malu atau hanyalah yang terburuk dari yang terburuk…)

Cody bukanlah tipe orang yang suka berceramah atau mengatakan hal-hal seperti ‘Akulah orang dewasa di sini’. Meskipun begitu, masih ada batas yang masuk akal untuk seberapa jauh yang bisa dia terima. Itulah sebabnya dia begitu bersikeras untuk menghentikan keikutsertaan Harold.

Namun, ketika pedang itu jatuh ke tanah dan Harold mengambilnya kembali untuk menyelamatkan Finnegan, Cody pun menyerah.

Dia telah menyerah pada kekuatan dan kebaikan Harold. Tapi lebih dari segalanya, dia menyerah pada kelemahannya sendiri.

“Aku tidak menginginkan ucapan terima kasihmu yang tak berarti itu. Nah, jika kau merasa seperti kau telah berutang kepadaku, maka kukira mulai sekarang aku hanya perlu membuatmu bekerja keras untukku. “

“Hahahaha … Tolong jangan terlalu keras padaku.”

“Baiklah, dia menang, aku mengakui kekalahanku” Pikir Cody. Ini bukanlah pertanyaan sederhana tentang menjadi lebih kuat atau lebih lemah secara fisik.

Harold mungkin menggunakan kata-kata hiburan semacam itu karena dia menduga bahwa Cody dengan tulus telah menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang kali ini sedang terjadi.

Itu hampir terasa mengherankan mengingat siapa yang lebih tua di sini.

Harold selalu memiliki kepribadian yang matang sejak hari pertama Cody bertemu dengannya, tapi saat ini dia masihlah muda, dia memancarkan semacam aura khusus dan karisma. Dia adalah seorang pahlawan sekaliber Vincent, atau bahkan mungkin lebih hebat darinya.

“Beristirahatlah untuk menenangkan akal sehat, orang ini benar-benar sesuatu yang berbeda dari yang lain,” keluh Cody di dalam benaknya.

“Yah, bagaimanapun juga, kita harus istirahat.”

Sudah larut malam.

Saat ini, mencari penginapan bukanlah pilihan yang realistis. Selain itu, pertama-tama, saat ini akan terasa konyol untuk meninggalkan rumah dengan seenaknya mengingat mereka harus menjelaskan semuanya kepada Finnegan dan istrinya begitu matahari terbit.

“Kau sudah mengurus semuanya di sini jadi kau bisa tidur di sofa. Aku bisa tidur di kursi ini atau di lantai, aku tidak merasa keberatan. “

Cody meregangkan dirinya dan menguap. Daripada mengatakan bahwa dia merasa mengantuk, itu lebih akurat untuk mengatakan bahwa dia merasa lelah.

Karena profesinya, dia percaya diri akan kekuatan pikiran dan tubuhnya, tapi sepertinya tindakan dengan hanya mengangkat pedang itu saja telah menghabiskan seluruh energinya. Saat berpikir bahwa ini mungkin adalah apa yang akan dirasakan saat energi kehidupan seseorang terkuras, punggung Cody pun mulai merasa menggigil.

Dan ketika dia memikirkan Harold, yang dengan santainya dapat menggunakan senjata semacam itu dengan ekspresi tenang di wajahnya, dia pun merasa agak takut. Dia tidak mengerti bagaimana Harold bisa melakukan ini. “Jika kau terus membiarkannya menguras energi kehidupanmu, satu-satunya hal yang menunggu di depanmu adalah kematian. Apa kau tidak merasa takut? “

Tentu saja, bahkan Cody tidak akan pernah mengatakan sesuatu yang begitu tidak sensitif semacam itu dengan suara keras.

Novel ini diterjemahkan oleh 4scanlation, Mohon tidak mengcopy/memirror tanpa izin.

“Oh, tunggu, kau bukanlah salah satu dari orang-orang yang benar-benar tidak bisa tidur di sofa, kan? Yah, kau memang berasal dari keturunan bangsawan. ”

Meskipun dialah yang mengatakannya, sulit bagi Cody untuk percaya bahwa Harold adalah tipe orang yang seperti itu. Dia tampak seperti tipe orang yang bisa tertidur di tengah hutan pekat sambil berdiri.

‘… Tunggu, bukan itu. Kenapa dia begitu sunyi? Apa dia mengabaikanku? Ya ampun, itu menyakitkan. ‘ Sambil memikirkan itu, Cody menoleh ke arah Harold, hanya untuk menemukan dirinya yang sedang menatap sebuah surat dengan begitu serius. Masih belum jelas dari mana dia mendapatkannya.

Saat melihatnya dalam keadaan yang tidak biasa, Cody ragu untuk memanggilnya.

Tapi ketika dia terjebak dalam keragu-raguan itu, Harold memasukkan surat itu ke dalam sakunya dan berbalik.

“Sesuatu yang mendesak telah terjadi. Aku pergi.”

“Kau mau pergi sekarang?”

“Aku akan membiarkanmu memberikan penjelasan pada mereka berdua. Tapi jangan mengatakan sesuatu yang tidak perlu, kau mendengarku? “

“Kukira itu tak masalah, tapi apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu kepada mereka?”

“… Mulai sekarang, kalian bebas hidup seperti yang kalian mau. Katakan itu pada mereka. “

Begitu dia mengatakan hal itu, Harold segera bergegas keluar rumah, ia tidak memberikan waktu kepada Cody untuk mencoba menghentikannya.

Setelah ditinggal sendirian di ruang tamu, Cody hanya bisa memandanginya dengan bingung.

Dia tidak tahu persis alasan mengapa Harold pergi, tapi dia tahu bahwa dia adalah orang yang sibuk; itu tak dapat dipungkiri jika dia memiliki urusan yang mendesak untuk segera dia urus.

Selain itu, Cody sendiri tidak merasa keberatan untuk menjelaskan segalanya kepada pasangan itu. Namun, masalahnya adalah tak ada lagi yang tersisa untuk menerima rasa terima kasih mereka karena telah menyelamatkan Finnegan.

Sementara dia sibuk mengkhawatirkan apa yang seharusnya dia lakukan, seseorang tiba-tiba memanggilnya dari belakang kursi yang dia duduki.

【”Tuan Cody.”】

【Oh, hei, Sarah kecil. Maaf, kurasa aku telah membangunkanmu. “】

Yang berdiri di sana dengan mengenakan piyamanya adalah putri Finnegan, Sarah.

Sepertinya Cody sedikit terlalu berisik. Dia bertanya-tanya apakah dia harus menjelaskan situasinya kepadanya segera karena dia sudah bangun, tapi Sarah mulai berbicara sebelum dia bisa mengatakan apa-apa kepadanya.

【”Kau sudah melakukannya dengan baik. Namun, sekarang kau memiliki peran lain untuk dimainkan. “】

【”… Sarah?”】

Ada yang aneh. Bukan hanya caranya berbicara, juga bukan tentang tatapannya yang tertuju pada dirinya namun malah terasa seperti itu mengarah ke dalam suatu kehampaan.

Ada yang salah. Itu terasa seperti bagian mendasar dari dirinya benar-benar tidak berada pada tempatnya.

Namun, Cody tidak tahu apa itu sebenarnya. Tidak peduli seberapa keras dia berusaha, dia tidak dapat memikirkan jawaban apa pun, seolah-olah otaknya menolak untuk berpikir.

Perlahan Sarah mulai berjalan mendekatinya, selangkah demi selangkah. Tingkah lakunya jelas tidak normal, tapi ketika dia menatapnya dengan bola mata berwarna biru langit, Cody menyadari bahwa dirinya tidak bisa bergerak.

(Biru langit …? Tidak, seharusnya warna bola matanya itu…)

Sebelum Cody bisa benar-benar mengingatnya, sesuatu menghalangi pandangannya. Telapak tangan Sarah yang kecil telah menutupi matanya.

Dia bisa tahu dari sentuhan lembut tangannya yang berada di dahinya bahwa matanya telah ditutupi. Meskipun begitu, tubuhnya tetap diam membatu.

【”Apa yang sedang kau lakukan…”】

Sebelum dia bisa menyelesaikan pertanyaannya, semua yang ada di bidang penglihatannya menjadi hitam.

【”Kau akan menjadi satu lagi cobaan yang bagus untuknya.”】

Suara yang mencapai telinganya tepat sebelum dia kehilangan kesadaran terdengar tidak jelas. Suara itu terjebak di suatu tempat antara suara normal Sarah dan suara seorang pria dewasa.

3 komentar untuk “Chapter 108.1”

  1. Jadi makin penasaran, Sarah siapa? Salah satu bonekanya Justus?. Sayang sekali novelnya ga terlalu populer di Jepang, updatenya jadi lama, padahal dulu seminggu update beberapa kali

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *