Chapter 131.2 – Pengantin dari Padang Belatung dan Desa yang Tertutupi Warna Putih

Seorang teman lama yang kupikir telah aku singkirkan… sekarang dia ada di sini.

「Ke … kenapa … kupikir kau dijual ke pedagang budak …」

「Oh … Kau mungkin telah mengetahui tanpa sepengetahuan Keril, tapi tampaknya kau memang mengetahuinya. Alasannya pasti karena kau telah mendengarkan percakapan orang-orang dewasa. Kau tidak boleh melakukan itu, jika mereka mengetahuinya, mereka akan memarahimu. 」

Dia mencibir sambil tertawa, dan aku bisa merasakan sensasi dingin penuh rasa ketakutan di punggungku.

Udara terasa lebih dingin dan lebih tajam dari udara pagi, dengan belati yang hampir seperti taring es.

「Ke-kenapa kau tiba-tiba ada di sini? Apa kau datang untuk melihat pernikahanku dan Keril? 」

「Ya, begitulah. Saatnya teman masa kecilku memulai hidup baru. Tentu saja aku datang untuk mengantar kalian. 」

Dia tersenyum tanpa malu-malu namun sepertinya dia masih memancarkan kebencian yang tak terkendali terhadapku.

「Ya, tapi sayang sekali, sepertinya aku telah melukai pak pendetanya dan sekarang sepertinya harus dibatalkan. Itulah mengapa kali ini aku harus membunuhmu. – Biarkan lidah api yang menari bangkit dan menghancurkan. 『Lover’s Snake!』 」

GWORRRRRR – Sebuah tiang batu besar lava merah kehitaman bermunculan dari tanah layaknya ular dan dengan panas yang mengguncang udara.

(Dengan musuhku yang merupakan seorang beastman, jika aku ingin membunuhnya, maka aku harus membakarnya dengan Tembok Api.)

Tapi dia melebihi dugaanku.

「Aku tidak akan membunuhmu… belum. 『Tombak Es!』」

「Apa ?!」

Sihir es Minaris menghantam sihirku, dan telah membekukannya, sihir itu padam di jalurnya saat menyentuh tanah dengan bunyi cling.

「Gabungan sihir api dan tanah? Hmp, kau cukup bagus. 」

「Ta-tapi, bagi seorang beastman untuk bisa menghasilkan tombak sihir bahkan tanpa mengucapkan mantra…」

「Maksudmu fakta bahwa begitu sihir meninggalkan tubuh beastman, itu menghilang? Jangan bodoh. Jika sihir itu masih dekat denganku, maka itu tidak akan melemah sebanyak itu, bukan? Bahkan di antara para beastman, ada yang bisa mengendalikan sihir sampai menjadi seorang magical swordsman. Apa kau tidak mendengarnya selama pelajaran sihir? 」

「Ugh, membakar jiwa api, larilah untuk mengorbankan dia dalam nyala api yang membara! 『Fire Spirit Breath!』! 」

Sihir yang memiliki kemampuan untuk membakar segalanya ini memiliki kualitas yang sama dengan serangan nafas naga.

Api berputar di langit, namun Minaris mampu menghindarinya di dalam bangunan itu tanpa kehilangan ketenangan.

「Jadi, serangan pertamamu bahkan bukanlah mantra kejutan, dan yang kedua adalah serangan sihir roh yang hanya berupa kekuatan. Apa kau akan bertarung hanya dengan bermain-main? Yang kau lakukan hanyalah menembakikux. 」

「Di … diam!」

Minaris mengejek sambil menghindar, dan sekarang aku bisa merasakan situasinya menjadi jauh lebih berbahaya.

Ini buruk, Ini buruk, Ini buruk.

Aku merupakan pasukan barisan belakang tentara, jadi tidak mungkin aku bisa mengalahkan sihir alami dari seorang beastman.

Sekarang Keril tidak ada di sampingku, aku harus membunuhnya sebelum dia mendekat, dan aku sudah dalam masalah.

(Aku tidak dapat memilih metodeku, aku hanya harus membunuhnya, bunuh dia di tembakan berikutnya!)

Tidak masalah mengapa Minaris bisa muncul di sini lagi.

Di duniaku dan Keril, aku tidak membutuhkan Minaris, aku tidak bisa membiarkan dia tetap hidup!

「Hee hee hee, ini seperti saat kita masih kecil. Lihat, kau selalu yang paling lambat dalam berlari, bukan? Hee hee hee, kejar-kejaran, oke! Semoga kau bisa menyusul! 」

「!! Aku tidak ingin menggunakan ini, tapi dengan ini aku akan membuat penampilan tenang di wajahmu dan dirimu menjadi hancur berkeping-keping !! 」

Aku mengeluarkan serangan terkuatku dari dalam tas.

Itu adalah permata dengan sihir api merah tua yang merupakan katalisator untuk mengeluarkan kekuatan sihir roh terkuat yang kumiliki.

Itu tidak murah, tapi setelah aku menggunakannya, kekuatan sihir di dalamnya tidak akan ada lagi di sana, dan aku tidak ingin meledakkan atap gereja ini dengan kekuatannya, tapi ini bukan waktunya untuk merasa ragu.

「Ledakan yang meruntuhkan segalanya dengan api yang mengancamku, 『Raging Anger of the Fire Spirit!』」

Untuk sesaat, semua kekuatan sihir di sekitar permata dikumpulkan dan kekuatan itu berubah menjadi warna api yang panas.

Itu menarik semua api di sekitarku ke pusat dengan warna putih yang panas dan kemudian meluas, menelan semua api putih itu.

Suara ledakan yang menggema dari akhir peristiwa ini memudar menjadi suara bangunan yang runtuh, mengelilingiku dengan tumpukan ubin langit-langit.

「A … apa aku menang? Heh heh, gadis bodoh itu. Ini tidak akan terjadi jika dia tidak muncul. 」

Perasaan tenang mengalir dalam diriku berakhir dengan desahan.

Lau, sepertinya aku berada dalam mimpi buruk, tapi kali ini bukanlah lelucon.

「Ah, tapi, gerejanya hancur. Apa yang akan terjadi pada pernikahan hari ini… 」

「Nah, apa kau benar-benar perlu mengkhawatirkan tentang hal itu sekarang?」

「Ah! 」

Aku pun diam membeku ketika aku kembali mendengar suara itu di belakangku.

Ketika aku yakin bahwa aku benar-benar mendengarnya, aku merasakan rasa sakit dimana sebuah pedang menusuk bahuku.

「Ah, aaaghhhh !!」

Novel ini diterjemahkan oleh 4scanlation.com, Mohon tidak mengcopy/memirror hasil terjemahan di web ini tanpa izin

(Sakit, ini buruk, aku harus melakukan sesuatu.)

「Agh … roh … pe nyembuh …『Heal. 』」

「Maksudku, pernikahan yang sudah kuhancurkan dengan melukai pendeta itu sekarang sudah berakhir. Jika aku tidak membawanya keluar maka tempat ini tetap tidak akan cocok untuk sebuah pernikahan. Kau benar-benar merusaknya. 」

Aku mencoba untuk menjauh dari Minaris, dan rasa sakit itu telah diatasi sihir penyembuhanku.

Cahaya hijau yang hangat mengisi rasa sakit, tapi, aku tidak bisa menghilangkan rasa dingin sedingin es yang kurasakan di hatiku.

Minaris meremehkanku layaknya seekor serangga, dan aku bisa merasakan ketakutan di dalam diriku mulai tumbuh.

「A-apa yang terjadi?」

「Lihat, gereja itu  hancur!」

「Tunggu, di mana anak-anak ?!」

「Siapa … tunggu, itu Lucia, dan Minaris di depannya ?!」

Orang-orang desa mengelilingi kami di dalam gereja.

Minaris tersenyum saat mendengar ini, dia terlihat sangat senang.

「Heh hah hah, kurasa panggungku sudah selesai diatur. Mari kita mulai. 」

「A … apa ?!」

Pada detik berikutnya, sebuah dinding cahaya berwarna hitam mengelilingi desa itu sendiri.

Ada roda gigi gelap yang berputar yang mengambang di dinding ini, dan melihatnya membuat seseorang merasa khawatir.

「Heh, hee hee hee, akhirnya, akhirnya! Oke, Lucia! Sekarang adalah waktu klimaksnya! Semuanya, semuanya akan hancur, hancur, HANCUR, heh heh heh HAH HAH HAH HAH HAH !! 」

Tawanya yang menggema… ini pertama kalinya aku mendengarnya.

Tak ada amarah, tak ada ketidaksabaran, tak ada permusuhan.

Melihat Minaris seperti ini membuatku merasa takut padanya dari dalam lubuk hatiku.

Tinggalkan Pesan