Chapter 131.1 – Pengantin dari Padang Belatung dan Desa yang Tertutupi Warna Putih

「… jadi prajurit sihir yang mengalahkan beruang sihir jahat itu tinggal bersama teman masa kecilnya, seorang gadis, dan mereka hidup bahagia selamanya. Tamat. 」

「Apa? Tamat? Nona Lucia, baca lagi… 」

「Tidak, itu saja untuk hari ini. Jika kau tidak tidur sekarang, maka kau tidak akan bisa bangun besok. Kau harus siap-siap untuk merayakan pernikahanku. 」

Aku mengatakan itu kepada gadis desa itu ketika aku selesai membaca buku itu dan menutupnya dengan bunyi clomp.

「Hei, hei … kenapa prajurit itu tidak memilih sang putri? Dia bisa jadi raja kan? Raja itu baik, kan? 」

「Kau benar. Tapi dia mencintai teman masa kecilnya. Lebih dari siapapun dan apapun. Kekuatan cinta itu kuat, tidak peduli tragedi apa yang kau lihat, itu memiliki kekuatan untuk mengatasi segalanya. Sama seperti Keril dan aku… 」

Aku menyelimutinya di tempat tidurnya dan meniup lilin.

Setelah sedikit mengusap lengannya yang berada di atas selimut, aku bisa mendengarnya tidur nyenyak.

Besok adalah hari pernikahanku.

Kupikir Keril akan tiba di desa kemarin, tapi ada kabar bahwa dia mengalami masalah dan akan datang sedikit terlambat. Dia akan tiba besok bersama dengan Woojes dan Katrea, yang seharusnya akan tiba hari ini.

Itu normal bahwa Keril akan mendapat masalah, tapi aku berharap dia akan berhati-hati di hari-hari seperti ini. Jika dia mau, kami bisa memiliki beberapa hari untuk bertingkah layaknya kekasih sebelum acara itu dari hanya sekedar pasangan yang menikah.

「Hee hee, Benar. Keril dan aku akhirnya segera menikah. 」

Keril dan pernikahan.

Ini adalah hari yang selalu aku nantikan.

Sehingga Keril akan menjagaku.

Sehingga Keril membiarkan aku melakukan apapun yang kuinginkan.

Sehingga Keril akan mencintaiku lebih dari apapun.

Memasak makan malam untuk Keril, berdandan untuk Keril.

Melakukan yang terbaik, terbaik, terbaik.

Bekerja sekuat tenaga, mempelajari sihir, menemukan rekan-rekan melalui pernikahan.

Mengatasi banyak musuh yang tampaknya akan menghancurkan hubungan kami.

Apapun yang terjadi, Keril akan selalu mempercayaiku.

Dengan mengingat hal itu, aku bersedia melakukan apa saja.

Hanya ada satu teman masa kecil yang memiliki kekuatan untuk menghentikannya, dan karena aku sudah lama mengusirnya, maka dia pasti sudah mati.

Saat itu, orang-orang dewasa telah menyembunyikannya dari kami, para anak-anak, tapi aku tahu bahwa dia dan ibunya dijual sebagai seorang budak.

Tidak akan ada yang bisa mengganggu Keril dan aku.

(Besok bangun pagi-pagi, dan membuat pai berisi buah-buahan. Keril akan senang.)

Di hari bersalju itu, kue pai seperti saat itu, saat aku mengusir gadis sihir yang menyebalkan itu.

Saat memikirkan masa depan bahagia yang akan kuberikan pada Keril, aku akan melakukan apapun, APAPUN untuk memilikinya.

(Hee hee hee, aku penasaran apakah hari esok akan datang lebih cepat.)

Aku akan mendapatkan buah merah kebahagiaan itu besok.

Keesokan harinya, salju yang turun sejak kemarin sore berhenti, dan langit cerah pun terlihat di atas lanskap bersalju.

Di negeri sihir yang sedingin es itu, rasanya menyenangkan untuk merasakan jejak samar dari tumpukan salju di bawah kakiku.

Aku bangun sejak pagi hari untuk memasak pai, tapi aku bangun jauh lebih awal dari yang kuduga. Itulah alasan mengapa aku memutuskan untuk membuang-buang waktu secara sentimental, dan berjalan-jalan di sekitar desa sambil memikirkan kembali kenangan yang aku miliki dengan Keril.

Aku berlari ke lapangan terbuka dan melihat ke rumah kosong tempat kami biasanya bermain petak umpet, dan gereja tempat kami berjanji.

Pernikahan hari ini juga akan diadakan di gereja itu.

Kurasa saat ini pendeta desa yang akan menikahi kami pun akan bangun.

Aku membuka gereja menuju ke aula utamanya.

Tidak ada seorang pun di sana, dan aula itu dipenuhi keheningan.

Di depan altar, aku menyempatkan diri untuk berdoa.

「Tuhan, terima kasih. Tolong buat Keril dan aku bahagia. Tolong awasi kami mulai hari ini dan seterusnya. 」

Kemudian, di belakangku aku mendengar suara derit pintu yang terbuka.

Seorang pria tua dan baik hati dengan janggut putih panjang pun masuk.

「Oh, Lucia. Apa kau bangun lebih awal untuk berdoa? 」

「Pak pendeta. Selamat pagi. Aku bangun lebih awal jadi aku memutuskan untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan. 」

「Begitu, begitu, semoga Tuhan terus mengawasimu, Lucia. Kau akan baik-baik saja, kau dan Keril akan menemukan kebahagiaan bersama. 」

Pak tua itu tersenyum padaku.

Senyumannya dipenuhi dengan keanggunan dan kehangatan.

Pikiranku dipenuhi dengan gambaran tentang para penduduk desa yang berkumpul untuk mendoakan kebahagiaan bagi kami.

「Ya, pak pendeta. Aku … aku akan menemukan kebahagiaan. 」

Novel ini diterjemahkan oleh 4scanlation.com, Mohon tidak mengcopy/memirror hasil terjemahan di web ini tanpa izin

「Ya, ya, bagus. Aku sudah berdoa untuk itu sejak lama. Bahkan dalam kebodohan dengan para manusia beastman yang datang ke desa ini, aku menyadarinya. Aku tidak bisa membantumu saat kau di ganggu oleh bocah beastman itu, jadi melihat kalian berdua akhirnya sangat bahagia, aku, AGH !! 」

Drip, drip… darah seseorang pun terjatuh.

「Nah, sepertinya kau sudah bangun lebih awal lagi, pendeta. Kau menghalangiku, jadi bisakah menyingkir? 」

「A? Apa … ?! 」

Saking kagetnya aku tidak bisa bergerak, karena di depanku, squish, suara buah yang diiris pun dapat terdengar saat pedang yang berlumuran darah ditarik dari perut pak pendeta.

「Nahhggg… ugh… uh..Da… darah… oww… tolong…」

「Berhentilah melebih-lebihkan. Jantung dan pembuluh darahmu belum dipotong. Kau tidak akan segera mati. 」

「Ughh…」

Seorang wanita muncul di hadapanku, dan dia tersenyum dengan tenang, seolah-olah dia adalah teman lama.

Dia tiba-tiba menendang pak pendeta yang terluka itu ke tanah.

「Ah… ah… aku tidak ingin… mati…」

「Kau akan baik-baik saja. Tuhan terus mengawasi, bukan? Itu sebabnya kau akan bahagia, kan? 」

Dia menaruh tangannya ke dalam lubang di perutnya dan meringkuk.

Melihat semua ini terjadi telah membuat pikiranku menjadi kosong.

「Baiklah? Lucia, bagaimana menurutmu? Jika Tuhan yang mengawasiku tidak melakukan apa-apa, maka dia tidak bisa memberikan kebahagiaan kepada siapa pun. Bukankah kau juga berpikiran sama? 」

「Mi … Minaris, apa itu kau?」

Rambut dan mata berwarna krem, dan telinga kelinci yang panjang.

Dengan senyumannya yang memikat, lengan ramping dan tubuh femininnya tertutup oleh seragam pelayan.

Tinggalkan Pesan