Chapter 7.6

Palna POV / Backstory

Aku melihat pemandangan kebakaran yang terukir di pikiranku.

Itu adalah aku dari 4 tahun yang lalu, aku yang dahulu saat itu tidak seperti aku yang sekarang. Aku lebih seperti Krul saat ini. Kuat, lugas dan selalu berusaha melakukan yang terbaik. Aku adalah orang yang pemimpi.

Aku juga punya master. Umurnya dua tahun lebih tua dan memiliki rambut panjang berwarna hijau. Dia tinggi dan selalu memakai kacamata karena dia tidak bisa berhenti membaca buku dalam kegelapan.      

Aku, yang lahir sebagai penyihir, diajari olehnya dan belajar banyak hal dengannya di perpustakaan raja. Perpustakaan ini terbuka untuk umum dan membantuku mempelajari banyak mantra baru. Guruku mengajariku mantra yang lebih maju dan menunjukkan betapa menyenangkannya itu.

Dulu, sebelum datang menemuinya, aku benci sihir. Aku juga sangat membenci belajar. Tempatku lahir tidak terlalu jauh dari ibu kota, jadi ketika aku diperintahkan oleh orang tuaku untuk belajar, aku tidak punya pilihan.

Sihir membutuhkan dua hal, pengetahuan dan kekuatan imajinasi. Jika kau tidak memiliki pengetahuan tentang sihir, kau tidak dapat menggunakannya. Jika kau tidak memiliki imajinasi untuk mengendalikan sihir dan membentuknya sesuai kehendakmu, maka kau juga tidak bisa mengendalikannya. Entah itu tidak aktif atau meledak.

Semua penyihir diinstruksikan untuk menyimpan pengetahuan dan secara perlahan naik level untuk mendapatkan cukup kekuatan sihir untuk digunakan.

Para dewa mengatakan kepada orang-orang yang memiliki kekuatan dan orang yang tidak memiliki bakat untuk sihir. Maka terserah kepada orang tua apakah mereka ingin menumbuhkan bakat itu atau tidak.

Ini sama dengan dipaksa melakukan sesuatu yang orang tuamu putuskan untukmu, ini adalah pandangan Palna pada saat itu.

“Buku … apa kau membencinya?”

Cara dia menatapku sambil mengatakan itu, penuh rasa jijik dan dendam. Ini adalah pertemuan pertama kami.

“Siapa … kau?” (Palna)

“Aku adalah seseorang sepertimu, orang yang dipaksa menjadi penyihir.”

“Ok … apa itu?” (Palna)

“Jika kau membenci buku, kau harus mencoba membaca yang ini.”

Dia memberikanku sebuah buku pada akhirnya. Seorang anak laki-laki yang tidak jauh lebih tua dariku memberiku sebuah buku setelah bertanya kepadaku apakah aku membenci buku-buku. Ketika aku melihat dia memberikanku sebuah buku yang kupikir ‘apakah dia gila ?!’

Tapi setelah melihat buku yang dia berikan padaku, aku berubah pikiran. Buku yang dia berikan kepadaku bukanlah buku sihir tapi buku bergambar sederhana tentang pahlawan.

“Ini adalah perpustakaan, disinia ada buku lain selain sekadar buku sihir.”

“Tidak, terima kasih, tolong kembalikan, mereka akan marah.” (Parla)

“Siapa yang akan marah, orangtuamu? Mereka bahkan tidak di sini. ”

Anak laki-laki itu menunjukkan senyuman yang mengatakan bahwa dia menang melawanku dalam argumen ini. Aku membuka buku bergambar dan setelah itu aku tidak membenci perpustakaan atau buku sebanyak itu.

Anak laki-laki itu jenius. Sudah jelas bahwa setelah aku bertemu dengannya, aku bisa membayangkan bentuk magisnya lebih banyak daripada anak-anak, dan keterampilan untuk memanipulasi kekuatan magis juga sangat hebat. Palna masih ingat ucapan favoritnya “Karena itu adalah kerugian untuk hidup dalam cangkang, diam dan menjalani hidup.”

Keterampilanku untuk memanipulasi sihir dan membayangkan itu murni. Alasan mengapa hal ini terjadi hanyalah karena aku memiliki banyak pengetahuan. Bukan hanya pengetahuan magis tapi juga pengetahuan tentang hal lain, sehingga aku bisa memahami lingkungan lebih baik.

Dan aku tertarik pada anak laki-laki yang membantuku itu. Sepertinya aku selalu mengikutinya dan setelah beberapa lama mulai memanggilnya master. Hal-hal yang telah aku pelajari darinya adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kupelajari dari perpustakaan saja.

Guruku sangat penasaran dan mencoba belajar sebanyak mungkin. Aku juga mencoba banyak membantunya selama ini.

Rasa haus akan pengetahuan adalah poin yang kuat, tapi rasa haus segera menjadi obsesi dan mulai mempengaruhi penilaiannya.

Rasa haus pengetahuan masterku akhirnya membuat dia belajar tentang iblis. Jika dia hanya akan meneliti, maka itu baik-baik saja tapi dia menginginkan lebih, dia ingin tubuh itu untuk dipelajari, tubuh iblis.

Jika hanya penelitian, maka dia bisa saja menculiknya, lalu menggunakannya untuk belajar. Tapi masterku itu baik dan tidak akan melakukan tindakan brutal semacam itu.

Masterku  tidak membenci iblis, sebenarnya dia juga seperti Kagami, dia percaya pada dua ras yang ada bersamaan dan saling membantu.

“Jika kedua ras saling membantu dan hidup bersama dunia ini akan jauh lebih baik.”

Itulah yang selalu dia katakan. Aku selalu berusaha menghentikannya memikirkan hal ini tapi dia tidak pernah menyerah dan selalu melangkah maju.

Aku  juga punya harapan dari dia, jika dia berhasil maka kita tidak perlu lagi bertempur.

Tapi setelah apa yang terjadi, aku mendapati diriku berpikir betapa naifnya aku.

“Kau sekarang tidak berguna, enyahlah …”

Tepat setelah iblis mengucapkan kata-kata itu, sebuah lubang besar di perutnya terbuka, perut masterku.

Tinggalkan Pesan