Chapter 3.2

Mata Alice melesat cepat saat kereta itu melewatinya. Kedua Kenta-Uros bergumam, “Ini tidak berarti kami tidak akan menyerang manusia, kami hanya mengerti apa yang benar-benar berharga, oke? Manusia adalah … “saat mereka lewat.

“Kupikir mataku akan membusuk. Jadi? Masih mau menaikinya? ”

Alice diam-diam menggeleng tanpa mengubah ekspresinya.

“Ara? Kalau bukankah itu Kagami-chan. kau akhirnya terbangun. “

Saat Kenta-Uros lewat, mereka melihat Paman yang mirip babi dengan handuk di lehernya, setebal batang kayu. Sepertinya dia membantu membangun kembali kota dan sedang berkeringat dengan membawa sebatang pohon besar dengan satu tangan.

Melihat hal itu, Alice yakin bahwa hanya ada orang-orang hebat di kota ini.

“Astaga, meski akan lebih cepat kalau kita menaiki Kenta-Uros. Kenapa harus kieras kepala? ”

Sebelum matahari mencapai puncaknya, kelompok Kagami meninggalkan kota dan menuju tempat pertemuan yang dijanjikan dengan Menou.

Kagami dan Takako membawa ransel besar berisi makanan dan peralatan untuk beberapa hari.

“Bagi mereka untuk membenci sesuatu sesuatu seperti cambukan … aku bahkan menampar mereka dengan bashibashi.”

Ketika Takako berkata dengan menyesal, Kagami menatap Alice dengan tatapan takjub yang sepertinya ingin mengatakan ‘huh’. Alice kembali mengangguk, dengan tatapan yang sama.

“Aku juga punya harga diri. Aku benci menunggangi mereka dan aku benci melihat reaksi kotor mereka itu untuk setiap hari. ”

“Egois sekali. Setidaknya tahan itu, karena lebih sulit untuk berjalan kaki kesana setelah … semua? Ara, bukankah begitu? ”

Takako menunjuk jarinya pada seorang pria dengan rambut panjang dan perak. Dia berpakaian ketat, seolah-olah dia sedang bertemu tentara kerajaan dengan seragam lengkap. Pria itu tidak mengenakan jubah yang Kagami lihat kemarin, tapi sesuatu yang terlihat seperti mantel.

Pria itu tampak diam menunggu sesuatu. Meskipun ada kemungkinan untuk salah mengira dia untuk orang lain untuk sesaat, ada dua tanduk yang menonjol di dekat telinganya, yang merupakan tanda bahwa ia adalah seorang iblis, jadi Kagami yakin bahwa dia adalah iblis yang dia temui saat serangan kemarin.

“Menou!”

Orang yang bereaksi lebih dulu setelah melihat si iblis adalah Alice.

Saat melihat Menou, dia dengan riang berlari kearahnya.

“A-Alice-sama! Anda benar-benar aman … Menou ini sangat khawatir. ”

Ketika Alice mendekati Menou, dia langsung berlutut, menjatuhkan satu lutut ke tanah, dan membungkuk.

“Baiklah, Aku senang Menou baik-baik saja dan sehat.”

Kata Alice tersenyum. Menou tampak sedikit lega dan ekspresinya melembut. Dia berdiri dan menatap Kagami.

“Sepertinya … bahwa ceritamu bukanlah kebohongan.”

“Tidak ada gunanya berbohong tentang hal seperti itu. Jika ada, kau pasti sudah lama tidak bisa lagi melakukan apapun. ”

Setelah Kagami mengatakan itu, Menou bergumam ‘Memang benar, itulah sebabnya’ dengan senyum sarkastik.

“Ara? Ara-n? Dia tidak seburuk itu seorang pria …! Penampilannya juga cukup tampan …! ”

Seakan menindaklanjuti pernyataan Kagami, sosok Takako muncul di depan Menou saat suara langkah kakinya bergetar.

Meski sempat melihat sekilas penampilannya tadi, Menou secara naluriah melompat mundur saat mendengar nada anehnya.

“Kau … siapa kau ?!”

Menou bersiap dan bola api tercipta dari sihirnya yang menyelimuti kedua tangannya.

Saat melihat ini, Alice dengan tergesa-gesa menyuruh Menou untuk tenang.

“Takako-san ada di pihak kita! Bersama Kagami-san! Mereka melindungiku! ”

“Di pihak kita … anda bilang? Namun, yah … muu … begitu? ”

Meski dia egois, dia mengerti bahwa Takako adalah sekutu dan segera menghentikan sihirnya.

“Yah, itu tidak bisa dipungkiri, karena kau adalah seorang iblis. kau tidak perlu khawatir, oke? ”

“Muu … maafkan aku Anda mungkin sudah tahu, tapi nama saya Menou. Aku sangat berterimakasih karena telah melindungi Alice-sama. Jika tidak apa-apa, maukah Anda memberi tahu nama Anda? “(TN: dia bertanya kepada Takako sambil mengira bahwa dia adalah laki-laki selama sini)

“Kamu? Ah, Takako-san adalah seorang wanita, kau tahu. ”

Ketika Alice dengan cepat menyebutkannya, Menou tertegun, mengatakan “Ehh !?”

Menou menatap Takako beberapa kali, seolah-olah dia menolak untuk mempercayainya.

Dia melihat Alice dan kemudian membandingkannya dengan Takako. Dia tidak bisa percaya bahwa mereka memiliki jenis kelamin yang sama.

Dia kemudian menatap Kagami sebelum melihat kepada Takako. Dia masih berpikir bahwa dia terlihat lebih mirip dengan Kagami.

“Aku  adalah Takako Vildar. Jaga aku ya? ”

Dia tidak tahu apakah dia tersinggung saat dipanggil laki-laki, tapi Takako memancarkan aura yang sulit dipahami, yang mirip dengan sesuatu yang aneh, saat dia tersenyum. Suara Takako rendah, sampai-sampai dia pikir dia berhalusinasi.

“Ah … Uh, P-permisi. Takako-dono, bukan? Saya akan mengandalkan anda.”

Menou berjabat tangan dengan Takako. Tidak peduli bagaimana dia memandangnya, dia hanya bisa melihat otot padatnya. Namun, dia tetaplah seorang dermawan yang telah melindungi Alice, jadi dia menahan emosinya.

“Izinkan saya mengucapkan terima kasih untuk ‘Anda’ … tidak, Kagami-dono, dan ‘Anda’ sekali lagi. Izinkan saya untuk mengungkapkan rasa terima kasih saya untuk melindungi Alice-sama. ”
(TN: Yang pertama ‘kamu’ = Kisama, mengacu pada Kagami. Yang kedua ‘kamu’ = Kiden, mengacu pada Takako)

Menou lalu berjabat tangan dengan Takako dan Kagami.

“Kalau begitu, untuk saat ini, aku ingin membicarakan rencana perjalanan kita … apakah itu tak apa?”

Dia mengangguk pada Kagami, yang melambaikan peta di salah satu tangannya. Kagami membuka peta di tanah dan mereka berempat duduk di sekitarnya.

“Biasanya akan baik-baik saja untuk pergi ke sana secara langsung, tapi karena sihir Menou terpancar luas, kita perlu menuju ke Istana Raja Demon saat mengambil jalan memutar untuk membuatnya tetap tersembunyi … Dalam hal ini, dibutuhkan waktu sekitar 14 hari, bahkan jika kita terburu-buru . ”

“Tunggu, kalau dipikir-pikir, aku tidak merasakan ada kekuatan sihir yang datang dari Alice-sama. Bagaimana itu bisa terjadi?”

Kagami menginstruksikan Alice untuk membelakanginya kepadanya, menunjukkan kepada Menou pita kain yang dililitkan di sekeliling tanduknya.

“Maksudku, kain apa  itu …?”

“Ini adalah kain yang dibuat oleh Kagami-san untuk menekan kekuatan sihir seorang iblis. Berkat ini, saya bisa memasuki kota manusia untuk pertama kalinya. Itu benar-benar menyenangkan, kau tahu? Kota Balman! ”

Menou menatap kain itu yang membungkus tanduk Alice dengan tatapan tertegun. Dia bisa merasakan adanya pancaran samar dari kekuatan sihir, tapi itu hanya sesaat. Kekuatan sihir itu segera berubah menjadi sesuatu yang lain dan diserap ke dalam kain.

“Ini sesuatu yang dibuat Kagami-dono?”

“Aku hanya kebetulan bisa membuatnya. Bahannya terlalu langka, jadi hanya bisa dibuat satu kali. ”

“… Anda benar-benar tidak membenci iblis, ya. Itu lebih baik…”

Sebelum Menou bisa terus berbicara, Takako tiba-tiba meraih Alice dan melompat mundur. Kagami dan Menou melompat mundur dengan cara yang sama.

Segera setelah itu, nyala api yang membara terbang dengan kecepatan tinggi dan peta yang mereka lihat langsung berubah menjadi abu.

“Seperti dugaanku. Aku tahu itu agak aneh. ”

Seolah-olah dia mengatakan bahwa tidak ada gunanya menyembunyikan diri, salah satu anggota party Pahlawan, Palna, muncul dari balik salah satu pohon di sekitarnya.

“Kupikir itu aneh, karena ada dua bayangan yang jatuh dari Hell Crows tadi malam.”

Orang berikutnya yang muncul adalah Krul.

“Bersamaan dengan Iblis … aku tidak percaya hal itu! Kau mengatakan bahwa anak ini adalah adik perempuanmu tapi … seperti yang kuduga, dia adalah iblis, bukan! ”

Yang ketiga adalah Tina.

“Kau tidak bisa … mengelak lagi.”

Orang terakhir yang keluar dari balik pohon di sekitarnya adalah Rex.

“Jangan menunggu giliranmu untuk keluar, keluarlah.”

Kagami menjawab, tertegun, sambil bergumam ‘keluar segera’ di dalam hatinya.

Tinggalkan Pesan