Chapter 2.4

“Umm …. Nah, aku mau minta tolong.”

Alice bertindak seolah-olah dia berencana untuk tetap tersembunyi, hanya menunjukkan wajahnya dari balik sebatang pohon sambil bergumam seolah dia gelisah.

“Untuk menyembuhkan penyakit ayah … aku ingin membeli obat.”

“Obat apa?”

“Seseorang mengatakan kepadaku bahwa ada desas-desus tentang Quest Guild yang menjual obat Perlindungan Roh … aku  ingin membeli obat ini.”

“Itu  harganya sepuluh gold, apa kau punya uang?”

“S-sepuluh gold !?”

Alice, yang memiliki tidak lebih dari 500 Silver, tampak terkejut saat mendengar harga semahal itu.

Obat Perlindungan Roh lumayan mahal, mengingat efeknya. Itu adalah jenis obat yang banyak bermanfaat menyembuhkan penyakit, termasuk kedinginan, racun, kutukan, pembasmian, vitalitas, stamina, kekuatan, penuaan, kecantikan, dan bahkan sakit punggung.

Bahkan jika sebagian kecil bangsawan menggunakannya, tidak masalah apakah mereka menggunakannya setahun sekali, itu masihlah barang berharga.

“Percuma saja. Aku tidak tidak yakin kau bisa mendapatkannya. ”

“Umm … Nah, gold nya … tolong pinjamkan padaku.”

Meskipun Alice mengatakan hal ini dengan rasa bersalah, Kagami mengerutkan alisnya dengan ekspresi wajahnya yang berkata “Apa yang dia katakan?”

“Tidak ada penduduk desa yang akan meminjamkan gold sebanyak itu untuk membeli obat untuk Raja Iblis. Tidak ada kewajiban bagiku untuk pergi sejauh itu. Sayang sekali Raja Iblis jatuh sakit. Dia pasti akan kalah. ”

Kagami berkata sambil menunjuk jari telunjuknya ke Alice, dan ekspresi Alice menjadi suram.

Melihat perubahannya, Kagami merenungkan apa yang dia katakan karena mengatakan ‘Raja Iblis pasti akan dikalahkan’ kepada putrinya.

“Tidak mungkin ayah meninggal … Jika dia meninggal maka semua iblis akan berada dalam bahaya. bukan hanya itu masalah yang akan kami hadapi! ”

Segera setelah itu, Alice menangis sambil menatapnya dengan mata memohon.

Melihat situasi ini, Kagami mendengarkan dengan ekspresi bingung.

“Sekarang Ayah menjadi sasaran Manusia dengan kekuatan sihirnya yang luar biasa, meski mereka belum mencoba untuk mencari dan membunuh iblis lain selainnya, jika ayah meninggal … ..!”

“Ah … Yah, itu benar.”

Bahkan jika Monster dikalahkan, mereka tidak akan hilang sama sekali. Karena Monster hanya terlahir melalui sihir iblis yang terpancar, itu secara tidak langsung disebabkan oleh Raja Iblis.

Jika Raja Iblis yang menyembunyikan sejumlah sihir yang sangat besar dikalahkan, mungkin lain kali manusia mungkin mulai menyalahkan iblis yang tinggal di berbagai daerah karena tidak adanya Monster .

Selama Raja Iblis, yang dikatakan terlalu kuat dari lawan, tidak terbunuh, Iblis lain bisa hidup tanpa menjadi sasaran manusia, bahkan jika mereka tidak mau menolongnya.

Dan  iblis  yang mengerti ini tidak banyak. Karena Kastil raja iblis berbahaya, menempatkan kediaman mereka di lokasi yang terpisah adalah contoh yang bagus.

“Tapi … Tanpa diragukan lagi ini adalah masalah yang akan terjadi cepat atau lambat. Raja Iblis akan mati suatu hari nanti. Dia akan dikalahkan suatu hari nanti. ”

Kagami sudah mengerti ini. Dia telah memahami segalanya untuk mendapatkan pemahamannya. Dia telah menyerah karena itu adalah sesuatu yang sama sekali tidak dapat dihindari.

Hidup seorang iblis tidaklah kekal. Mereka menjadi tua dan mati sama seperti manusia.
Raja Iblis tidak terkecuali, dan meskipun dia adalah ‘Raja Iblis’, dia hanyalah satu dari beberapa generasi Raja-Raja Iblis.

Kagami tahu ini. Dan jika tidak ada penggantinya, eksistensi yang luar biasa yang dikenal sebagai Raja Iblis tidak akan ada lagi di dunia ini.

“Aku … tidak akan menyerah. Paling tidak jika hal itu harus ditentang, jika masih ada sedikit harapan, aku ingin berpegang teguh pada hal itu. ”

Melihat Alice mengertakkan gigi, Kagami merasa agak nostalgia.

Bagi Alice, mungkin kemungkinan ini terkait dengan kehidupan ayahnya. Kagami sudah mulai menebak niatnya yang sesungguhnya tentang keinginan untuk hidup berdampingan dengan manusia.

“kau , apakah kau tidak membenci manusia?”

Untuk mengkonfirmasi apakah ini benar atau tidak, Kagami mengajukan pertanyaan seperti itu.

“Bahkan jika aku membenci mereka tidak aka nada gunanya, “Karena kita semua sama.”

Mendengarkan kata-kata ini, Kagami secara tidak sengaja mengendurkan pipinya, mengeluarkan nafasnya, dan mulai tertawa.

“K-kenapa kau tertawa!”

“Tidak … Karena kau  berpikir seperti itu, aku  ingat bahwa Raja Iblis juga mencoba hidup berdampingan dengan manusia.”

“Iblis tidak ingin kehilangan Raja Iblis sehingga mengatakan kalau raja iblis itu sangat berbahaya,” sebuah pernyataan yang tidak benar. Kagami merasa yakin saat mendengarkan Alice.

Jika Raja Iblis meninggal, iblis akan menjadi sasaran. Tentu saja jika iblis dibunuh tanpa alasan, itu mungkin akan menyebabkan perang antara manusia dan iblis. Dia tidak tahu berapa lama kedamaian ini akan berlanjut. Tidak masalah jika satu sisi berlanjut sampai tidak ada yang tersisa, itu akan menyebabkan perang.

Meskipun beberapa dari Iblis yang tidak ditargetkan tidak lagi menginginkan perang, mungkin akan mulai berperang saat mereka kehilangan Raja Iblis, yang dikatakan sebagai Perisai Agung.

“Tapi aku pikir tidak mungkin memperbaiki hubungan antara manusia dan iblis.”

Mengapa dia berpikir begitu? Karena dia sudah pernah memikirkannya dulu.

Meski sudah memikirkannya, kenyataan itu kejam dan dia menyerah.

Dia juga memikirkan metode lain, tapi jelas bahwa dia harus menyerah.

Namun gadis di depannya tidak menyerah. Sejak dia sudah menyerah dulu, dia berusaha untuk mencoba mewujudkannya. Dan iblis ini, datang sendiri ke tempat seperti ini.

Sebenarnya, ini lebih dari sekedar iblis yang membenci manusia, mereka membunuh manusia. Dan juga, manusia juga membunuh iblis. Itu untuk memastikan keamanan di setiap sisinya.

Bagaimanapun, Alice berpikir bahwa manusia dan iblis adalah sama. Karena dia berpikir untuk bisa hidup berdampingan, “kita berada dalam perahu yang sama” muncul dalam pikirannya. Kagami sudah berpikir terlalu banyak.

Dan dia sudah bisa menebaknya dengan benar.

“Sekalipun tidak mungkin sekarang, aku mungkin bisa menemukan jalan suatu hari nanti, jadi aku tidak akan menyerah.”

“Tentu, aku  akan mencoba yang terbaik tanpa menyerah. Jika itu obat yang kau inginkan, aku akan membelikannya untukmu. ”

Karena itulah Kagami, seperti dirinya sendiri, telah mempertimbangkan untuk mendukung gadis ini sampai dia menyerah  pada  kemungkinan manusia dan iblis dapat hidup berdampingan suatu hari nanti. Karena cara ini nampak lebih menarik baginya.

Dengan beberapa kemungkinan, dia mungkin menyadari sesuatu yang berbeda. Dia percaya pada kemungkinan ini.

“A-apakah itu tak apa-apa ? Tapi goldnya …. ”

Dengan tiba-tiba berubah sikapnya, saat Alice tiba-tiba menjadi ceria, Kagami berkata seolah dia meminta maaf.

“Tentu kamu akan menerimanya kan? Bukankah kau mengatakan untuk ‘meminjamkannya’ beberapa waktu yang lalu? Itu akan dikembalikan kan? ”

“Y-iya! Kembali sekitar 10 gold, karena ada banyak permata di dalam benteng, tidak masalah jika aku mengambilnya. ”

“Nah, karena kau akan mengambilnya, buatlah jadi 15 gold.”

“Eh! Bukankah itu lebih mahal 5 Gold? ”

“Mau bagaimana lagi, kalau tidak itu tidak akan sia-sia. Bahkan aku memberikanmu bantuan yang besar, bukan? ”

Meski Alice terkejut dengan sosoknya yang luar biasa, faktanya itu adalah bantuan besar baginya.

Dibutuhkan sekitar 10 hari untuk pergi ke kastil raja iblis dan kembali ke kota Balman. Dan wajar bagi Kagami untuk mendapatkan sekitar 5 gold dalam jumlah waktu itu.

“Ini adalah pilihan aman untuk mengantarmu sampai ke Kastil raja iblis. Ayo, harganya sudah  murah lho. ”

“Uu …… meski ayah mungkin akan marah padaku nanti, tidak masalah. Karena permata itu berada di tempat penyimpanan, aku rasa tidak apa-apa. ”

“Yosh, sekarang sudah diputuskan terlebih dahulu kita perlu pergi ke kota Balman untuk membeli obatnya, lihat disana tempatnya, Alice.”

Setelah Kagami selesai mengatakannya, ia terus berjalan menuju Balman.

Setelah namanya disebut secara tiba-tiba, Alice, yang menatap kosong, langsung tersenyum seolah dia gemetar karena senang.

“Ya! Tolong jagalah aku, Kagami-san! ”

Setidak-tidaknya iblis, meskipun ini adalah fakta bahwa mereka dipanggil dengan nama oleh manusia, seorang gadis bernama Alice adalah orang pertama yang mengharapankan kemungkinan itu.

Sebelumnya, sebuah eksistensi monster  mengambil nyawa ayahnya, dan Kagami yang berusia 7 tahun pada saat itu menaruh dendam terhadap iblis yang menghasilkan monster ini, dan membenci mereka untuk itu. Dari lubuk hatinya ia telah berpikir untuk membunuh mereka semua.

 

Tinggalkan Pesan