Chapter 2.10

Takako berkata dengan tenang.

Ketika mereka mengamati lingkungan sekitar mereka yang kacau, mereka melihat bahwa para Petualang yang bingung, yang menangis dan berteriak pada saat bersamaan, perlahan mulai melawan Bloody Buffer.

Pasti mengejutkan karena monster tiba-tiba jatuh dari langit, tapi semua orang sepertinya menghadapinya tanpa masalah. Sepertinya tidak butuh waktu lama untuk benar-benar menahan kerusakan ini.

“Kukuku … fuhahaha! Tidak buruk, manusia! Meskipun Kalian merasa aman sekarang … hari ini hanyalah sebuah ujian! Ini adalah deklarasi perang … Pasukan Raja Iblis akan menakhlukan manusia! ”

Segera setelah itu, sebuah suara bergema di dalam diri mereka, seolah-olah suara itu berbicara langsung ke dalam pikiran mereka.

Alice dan Takako segera melihat ke arah burung-burung yang berkelompok di langit. Burung-burung itu sepertinya melihat ke bawah, dan mereka bisa melihat seorang Iblis dengan dua tanduk di kepalanya.

“Ara … Apakah dia itu ayahmu?”

“Tidak … Ayah tidak semuda itu, dan dia tidak memiliki rambut perak. Tapi, mengapa dia menggunakan nama Raja iblis di tempat seperti itu? ”

Saat Takako memeriksa keadaan, dengan tatapan sedikit terganggu, Alice dengan cepat membantahnya.

Namun, Alice tidak bisa menyembunyikan ekspresi kebingungannya. Mungkin saja mereka hanya menggunakan nama Raja Iblis, tapi mereka pasti telah menyatakan perang melawan manusia.

“Takutilah kami, manusia …! Tuan Raja Iblis akhirnya mulai bertindak untuk menghancurkan para manusia. Dengan  namanya dan kenyataannya, kalian akan ditakhlukan … untuk selamanya! ”

***Sudut pandang Kagami***

“Sangat lapar. Aku punya banyak waktu luang. Cepatlah kembali. ”

Setelah Takako dan Alice pergi, Kagami berbaring di atas tempat tidur, karena ia tidak memiliki sesuatu untuk dilakukan. Entah itu baik untuk tidur lebih awal setelah makan, dia sangat menyesal tidak ikut mandi bersama mereka. Namun, karena Balman selalu ramai, terlepas dari waktu, nampaknya terlalu merepotkan untuk keluar sekarang, bahkan kalaupun tengah malam. Akan sangat menyebalkan jika dia mengabaikan Takako dan Alice, jadi Kagami sedang menunggu di tempatnya.

“Seperti biasa, sepertinya mereka bersenang-senang. Seperti yang diharapkan dari Balman, sapi bahkan jatuh dari langit. ”

Kagami tertawa ringan saat melihat ke luar jendela. Segerombolan Sapi dengan cepat turun dari langit ke arahnya.

“Jika Kau menunjukkan ini padaku, maka makan malam hari ini akan menjadi daging sapi hitam … Tidak, itu sesuatu yang terlalu murah, karena Alice ada di sini … Tapi kemungkinan besar dia belum pernah mencobanya sebelumnya, jadi daging sapi hitam…”

Kagami langsung mengerti bahwa monster yang jatuh itu adalah Bloody Buffer. Menurutnya itu lucu karena monster Level rendah seperti itu jatuh ke kota tempat para petualang berkumpul.

Awalnya dia mengira Takako telah melakukannya saat mereka terjatuh, karena kelasnya adalah Monk, tapi dia segera berubah pikiran.

“Gururu …… ruooooo!”

“Eh? Ini sangat menyebalkan. ”

Bloody Buffer menerobos langit-langit dan jatuh ke ruangan, mendarat tepat di samping tempat tidur Kagami.

“Eh … aku ingin tahu berapa biaya perbaikannya.”

Kagami menengadah ke langit, lebih memperhatikan kondisi langit-langit yang rusak daripada Bloody Buffer yang jatuh di depannya, dan melihat  para Monster Burung berwarna hitam yang telah menjatuhkan Bloody Buffer. Saat mereka terbang dan memenuhi langit, Kagami mengerutkan keningnya.

“Kelihatannya bukan Takako-chan yang melempar mereka … Apa monster-monster itu yang melakukan hal ini?”

Monster burung hitam berkeliaran di langit. Dari apa Kagami tahu, mereka hanya terlihat berkelompok. Mereka hanya monster level 138 yang terbang mengelilingi istana Raja iblis, Hell Crows.

Mengapa mereka terbang berkelompok di tempat seperti itu? Mereka bahkan bekerja sama dengan sesama Monster yang awalnya berada didaerah yang berbeda. Meskipun ada pemikiran lain yang awalnya dipikirkan Kagami,

“Ini babi terbang!”

Apa yang dipikirkannya dengan cepat seperti mereka.

Karena Hell Crows bisa terbang di sekitar langit, mereka jarang turun ke tanah. Dia harus memikirkan strategi untuk mengalahkan mereka. Mereka adalah monster yang tidak sering ditemui Kagami.

Namun, Gagak-gagak suka makan permata yang mengkilap sebagai makanan, dan permata-permata itu disimpan di dalam tubuh mereka, Kita bisa mendapatkan sejumlah besar emas jika kita mengalahkannya. Mereka adalah monster langka yang drop itemnya adalah permata.

“Aku-aku benci itu! Satu, dua, tiga, empat, lima, enam … semuanya gemuk! ”

Pikiran Kagami segera beralih untuk memikirkan bagaimana mengalahkan Hell Crows, yang terbang di langit. Dia tidak peduli dengan biaya perbaikan langit-langit lagi karena akan baik-baik saja jika dia membayar dengan emas dari hasil mengalahkan Crows Neraka.

Dia benar-benar mulai merasa bersyukur dengan Hell Crows and Bloody Buffer yang sempat menyerang seakan dilihat sebagai hewan ternak.

“Kukuku … fuhahaha! Tidak buruk, manusia! Meskipun Kalian merasa aman sekarang … hari ini hanyalah sebuah ujian! Ini adalah deklarasi perang … Pasukan Raja Iblis akan menakhlukan manusia! ”

Sebuah suara bergema di benak Kagami.

“Takutilah kami, manusia …! Tuan Raja Iblis akhirnya mulai bertindak untuk menghancurkan para manusia. Dengan  namanya dan kenyataannya, kalian akan ditakhlukan … untuk selamanya! ”

“Apa-apaan yang dibilang orang itu?”

Kagami berkata dengan rasa benci menanggapi suara yang didengarnya tiba-tiba. Dia tahu keberadaan yang disebut Raja Iblis. Kebetulan, ia juga mengenal putrinya. Justru karena inilah dia tahu bahwa pemilik suara ini … mungkin hanya seorang Iblis biasa. Dia paham kalau Iblis itu dengan egois memaksakan niatnya keorang lain, yang membuat dia sedikit marah.

“Gururururuoooooo! Guruooooooo! ”

Ketika Bloody Buffer mengeluarkan teriakan, seolah-olah mereka mengumumkan keberadaan mereka, Kagami menatap mereka.

“Benar juga.”

“Guruo? Guru…!?”

Kagami meraih salah satu tanduk yang membentang yang dimiliki Bloody Buffer dengan satu tangan, mengangkatnya sambil menopang tubuh raksasa itu, dan melemparkannya ke langit dengan kekuatan penuh.

Lebih besar dari pada cannonball, Bloody Buffer terbang lurus menuju langit dan menabrak kawanan Hell crow lalu berubah menjadi emas.

Hell Crow yang mendapat pukulan langsung dari Bloody Buffer berubah menjadi sejumlah besar emas dan permata, yang bertebaran di udara.

“Sial! kemungkinan ada orang lain memungutnya! ”

Setelah mengatakan itu, karena tidak ada anak-anak yang berlari di sekitarnya, Kagami melompat keluar dari langit-langit yang rusak. Setelah menemukan Bloody Buffer dia turun dari atas, dia mulai mencari Takako.

“…… Eh?”

Iblis  yang berdiri di atas Hell Crow di langit tidak dapat mengerti apa yang telah terjadi pada Hell Crow yang terbunuh dan kebingungan, dengan ingus mengalir di hidungnya.

*** Akhir Sudut pandang Kagami***

 

Tinggalkan Pesan