Chapter 2.1

Saat Kagami pertama kali mengalahkan Green Slime pada usia 2 tahun, dia bertanya-tanya satu hal.

“Aku heran mengapa benda ini mengeluarkan gold?”

Namun, keherannan Kagami seketika lenyap. Di dunia ini, itu merupakan sesuatu yang normal. Sebuah fenomena alam.

Tidak, jika ada, dia mungkin berpikir seperti itu karena usianya baru dua tahun.

Dengan adanya mantra sihir yang umum, keraguan Kagami lenyap bahkan sebelum dia menyadarinya.

Sejak saat itu, Kagami terus mengalahkan Green Slimes. Dia memastikan untuk selalu melawan mereka secara terpisah, melemparkan batu ke arah mereka, menggali perangkap, dan kadang-kadang mengirim mereka terbang, sambil berusaha untuk tidak teracuni. Dia terus mendapatkan pengalaman melalui lemparan batu.

Namun, ada batasan pengalaman yang bisa dia dapatkan dari Green Slimes. Kagami mengalahkan Green Slimes setiap hari dan mencapai Level 3 dalam sebulan.

Target berikutnya adalah monster yang tinggal di dekat Green Slimes dan desa dalam jumlah besar, Moss Goblin.

Makhluk itu memiliki penampilan mirip babi hutan dan tubuh tertutup kulit hijau, yang membuat penampilannya yang mengerikan. Itu adalah monster jahat yang akan menyerang dan menggigit targetnya. Kagami merasa ragu untuk menyerangnya, tapi setelah menjadi Level 3, tubuhnya terasa lebih ringan dari sebelumnya dan kekuatannya memberinya kepercayaan diri untuk menantangnya.

Dari sudut pandangnya, mudah untuk mengalahkan mereka. Dia mengalahkan semua Slimes Hijau di dekatnya, namun tujuan utamanya adalah untuk melihat apakah dia bisa mengalahkan Moss Goblin. Dia akan mati karena sebuah serangan, dan jika mereka bertindak dalam sebuah kelompok, mereka akan menyerangnya dan mungkin dia akan mati diserang para Moss goblin itu.

Namun, Kagami melawan mereka satu per satu sehingga dia tidak perlu mengambil risiko  itu. Dia menghindari serangan mereka, menendang mereka dari belakang, dan melemparkan batu ke arah mereka, dan dengan mudah mengalahkan mereka.

Kira-kira setahun setelah dia mulai membunuh Moss Goblin, Kagami mencapai Level 4. Namun, dia hanya Level 4, karena Moss Goblin adalah monster Level 4 dan dia tidak bisa meningkatkan levelnya lebih tinggi lagi, tidak peduli berapa banyak lagi goblin yang dia kalahkan.

Ketika Kagami memikirkan apa langkah selanjutnya, dia menyadari bahwa dia perlu mengalahkan Monster yang setidaknya satu level lebih tinggi. Saat memperhitungkan monster lemah di sekitar desa, Monster berikutnya adalah Goblin Level 7.

Mungkin, bagi orang dewasa, tidak akan terlalu berbahaya untuk segera melawan Goblin Level 7? Kagami selalu berpikir seperti itu dan dia memutuskan untuk bertarung dengan Goblin, karena dia tidak akan bisa menaikkan level untuk waktu yang lama jika dia tidak melakukannya.

Dia telah bertarung dan mengalahkan Moss Goblin tanpa terluka selama setahun, jadi pastinya dia juga bisa mengalahkan Goblin. Kagami mendekati Goblin seperti elang dan menyerang mereka sebelum mengerti  mengapa Penduduk Desa dewasa mencoba untuk tidak melawan Monster ini.

Jawabannya sangat sederhana yaitu Risiko kematian terlalu tinggi.

Monster hijau memiliki sosok yang mirip dengan manusia dan akan menggigit dengan mulut besar mereka jika mereka mendekatimu, seperti Moss Goblin. Kagami pasti akan mati jika dia tidak menggunakan taktik yang bagus.

Dia menjaga jarak dan melancarkan serangan dari jauh, tapi karena tubuh mereka seperti terbuat dari lapis baja, mereka sama sekali tidak terluka. Meskipun demikian, serangan jarak jauh jauh mengenai mereka … lalu  mereka mulai meniru melempar batu.

Batu-batu yang dilemparkan Goblin lewat dari pandangannya, dan satu serangan terkena tangan Kagami dan terluka.

Jika arahnya sedikit bergeser dan batu itu menabrak kepalanya, Kagami pasti terbunuh seketika.

Karena dia beruntung dapat menghindari serangan dari  Green Slimes dan Moss Goblin, ini adalah pertama kalinya dia benar-benar mengerti bahwa jika dia terkena pukulan telak, dia pasti akan segera terbunuh.

Seberapa malangnya keberadaan yang disebut Villager? Dia berlari untuk menyelamatkan hidupnya, menuju desa, dan setelah melihat Warrior level 10 yang tinggal sebagai tamu untuk mengalahkan Goblin, Kagami benar-benar mengerti.

Kagami, yang menyaksikan perbedaan Status yang luar biasa ini, sekali lagi teringat suatu perasaan yang sudah lama ia lupakan.

“Apa sebenarnya … adalah Peran (role) itu?”

Dia mempertanyakan hal tersebut dibalik hal-hal natural  dan eksistensi di dunia ini.

Kagami tersentak oleh sensasi yang tak terbayangkan dan tak dapat dijelaskan. Namun, dia tidak bisa menemukan jawabannya. Peran diberikan kepada orang-orang pada saat kelahiran mereka, dan terlepas dari upaya banyak orang yang mencoba mencari jawaban tersebut, tidak ada jawaban yang dapat mereka temukan.
Alih-alih mengenali keraguan ini sebagai halangan, Kagami hanya mengabaikannya.

Namun, dia tidak menyerah. Karena Warrior level 10 bisa mengalahkan mereka, jika dia bisa bertarung dengan kekuatan Warrior level 10, bahkan jika dia adalah Penduduk Desa, dia akan bisa mengalahkan Goblin.

Biasanya, ketika seseorang menyadari fakta ini, biasanya mereka menyerah, tapi Kagami tidak melakukannya. Dia tidak mau mengakuinya. Jika dia terlahir sebagai warga desa, dia akan terus hidup sebagai warga desa.

Risiko kematian itu sangat tinggi, tapi Kagami tidak berencana terbebani  dengan risiko kematian. Oleh karena itu, dia tidak akan membalas dendam saat dia menjadi lebih kuat dari dirinya yang sekarang.

Namun, meski dia berpikir ingin menjadi kuat, dia hanya bisa meningkatkan Status-nya melalui sedikit latihan otot , seperti melakukan push up. Jika dia benar-benar ingin menjadi kuat, tidak ada pilihan lain selain menaikkan Level-nya.

Jika dia ingin menaikkan Level-nya, tidak ada cara lain selain mengalahkan Goblin.

Dia tidak bisa menghilangkan dilemanya. Bahkan jika dia berusaha keras dan mencoba mengalahkan Goblin, dia tidak bisa melakukannya sendiri.

Dia tidak bisa meminta kerja sama dengan Warga Desa lainnya, karena mereka jelas tidak ingin mati. Selain itu, tidak ada alasan bagi Kagami, yang masih kecil, untuk keluar dan mengalahkan Monster. Tidak ada gunanya mencoba dan mempekerjakan seorang Warrior untuk membantunya naik level karena dia masih kecil dan tidak memiliki uang. Itulah alasan dilemanya.

Dengan demikian, dia tidak dapat menemukan jalan keluar dari kenyataan yang tak berdaya, tidak peduli berapa pun yang dia coba. Inilah situasi saat Kagami berusia 7 tahun.

Saat baru berusia 7 tahun, Kagami masih di Level 4. Meski Statusnya sedikit berkembang, tidak ada perubahan berarti.

Pada usia 7 tahun, dia menyewa seorang Warrior yang tinggal di desa tersebut dan menuju Kota Kekaisaran dengan kereta, untuk mengantarkan pakaian yang telah dibuat di toko penjahit yang dimiliki orang tuanya.

Mereka diserang oleh Monster dan ayah Kagami, yang berada tepat di depannya, terbunuh, bersimbah darah.

Kisah tentang keberadaan yang disebut dirinya yaitu Kouji Kagami dimulai pada hari itu.

Tinggalkan Pesan