Chapter 1.7

Kagami tampak seperti dia tidak peduli bahwa dia telah kehilangan kepercayaan saat dia mengatakan sesuatu yang terdengar seperti sebuah kebohongan pada party Pahlawan dengan wajah membual, penuh keyakinan. Krul dengan ceroboh tertawa terbahak-bahak. Jika dia putus asa, tidak masalah apakah gadis itu adalah Iblis atau tidak.

“Fufu..Ahahaha! Aku  mengerti. Mari kita tinggalkan topik tanduknya saja. Meskipun mungkin ada alasan yang berbeda, Aku  tidak akan menanyakannya lagi. “

Kagami menertawakan dirinya sendiri saat mendengar kata-kata Krul.

Dengan heave-ho heave-ho, sebuah perasaan senang yang luar biasa dalam pikirannya sambil menangis di dalam hatinya, “Inilah kekuatan ngelesku !!!!!” .

“Namun, Pedang Suci adalah masalah yang berbeda.”

Rex tiba-tiba berkata serius, segera membawa Kagami kembali ke kenyataan.

Rex menoleransi ucapan egois Krul, dan setelah menyingkirkan masalah kemampuan abnormal Villager di sampingnya, satu-satunya yang tersisa adalah tujuan bahwa dia telah datang ke dungeon ini untuk memiliki pedang suci itu.

“Apa yang telah dilakukan saudaramu di sini, di ruangan ini?”

Gadis itu tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Rex padanya.

Apa tujuan si gadis kecil itu masuk ke ruangan ini? Dia tidak mau mengatakan alasannya sendiri, dan kalaupun dia melakukannya, mungkin saja dia dapat mengarahkan mereka menuju Pedang Suci tanpa sengaja. Dia bahkan tidak mau membuka mulutnya.

Pedang Suci sudah hilang saat gadis itu tiba di ruangan ini.

Pedang itu biasanya harus ada di disana … Karena party Hero muncul pedang itu tidak ada disana, tidak ada yang bisa menjelaskan sebab pedang itu hilang.

Kagami menyadari bahwa tujuan gadis kecil itu pasti untuk menghancurkan Pedang Suci, tapi dia tidak menyuarakan pikirannya.

“Aku bilang adikku tersesat dan berakhir di sini secara kebetulan.”

“Ini bukan tempat yang bisa kau temukan secara tidak sengaja! Bahkan jika itu terjadi, tidak mungkin Pedang Suci akan menghilang pada saat bersamaan! ”

“Tapi itu telah terjadi bukan? Atau lebih tepatnya, siapa peduli jika Pedang Suci telah hilang? ”

“Aku … aku  adalah Pahlawan! Manusia Terpilih! Satu-satunya yang diizinkan untuk memegang Pedang Suci! ”

“Eh … maaf Jika kau  berbicara tentang pedang yang terjebak di sini, aku  sudah menemukannya … dan membawanya kembali ke kota beberapa waktu yang lalu. ”

Kagami tidak sengaja meminta maaf kepada Rex, yang dengan putus asa berteriak “Aku seorang Pahlawan!”.

Semua orang di sana berbalik dan menatap Kagami saat mereka mendengar kata-kata tenangnya.

Meskipun mereka memiliki banyak hal yang ingin mereka tanyakan, tidak ada kata-kata yang keluar. Bahkan gadis Iblis itu kehilangan kata-kata saat mendengar ucapan yang seharusnya tidak pernah dikatakan oleh penduduk biasa.

“Kau  bilang … Pedang Suci, itu pusaka keluarga kerajaan, sudah kau bawa?”

Rex bertanya pada Kagami, gemetar ketakutan.

“Eh !? Keluarga Kerajaan? … Apakah Keluarga Kerajaan itu? Sial ! Aku mengambilnya dan menjualnya ke pedagang secepat mungkin! Mungkin sudah dijual dengan harga tinggi di toko sekarang. ”

“T-terjual …?”

Rex melangkah mundur setelah  mendengar kata-kata itu dan lupa menutup mulutnya.

Sementara itu, Kagami ingat bahwa dia telah menjual pedang yang dulu ada di sini dengan harga tinggi dan berpikir: “Jadi, itu adalah pedang yang diturunkan di dalam Keluarga Kerajaan!”, Meyakinkan dirinya sendiri.

“Jangan  menipuku! Hanya mereka yang memiliki Peran Pahlawan yang diizinkan untuk menggunakan Pedang Suci itu, pedang itu pasti sudah disegel oleh sihir Sage Kuno! Tidak mungkin bagimu membawanya! ”

“Ah … tentu, itu agak berat. Aku  pikir itu sekitar 800 Kilo. Tetap saja, aku  berhasil membawanya dengan normal? Aku  juga menariknya keluar dari tumpuan. ”

Atmosfer membeku saat masing-masing anggota party itu bertanya-tanya bagaimana ada manusia yang bisa mengangkat pedang seberat 800 Kilo.

“Cerita itu … omong kosong seperti itu! Kau seorang warga desa … tidak ada alasan bagimu untuk bisa menahannya! ”

“Itu sebenarnya berat. Jika aku menggunakannya, itu akan terasa seperti menggunakan pedang biasa. Bahkan jika itu mungkin terlalu berat untuk digunakan, jika aku berhasil menariknya keluar, bukankah mungkin bagiku untuk menggunakannya? Jika kau  sudah mencobanya, mungkin kau  juga bisa menariknya keluar. ”

“Sialan bodoh macam apa kau …”

“Tidak, tidak, sekarang.”

Kagami menatap Rex, yang tidak percaya apa pun yang dia katakan, dan menilai bahwa akan lebih cepat baginya untuk menunjukkannya secara langsung. Dia sedikit menurunkan pinggangnya dan dengan tegas meraih ujung alas tumpuan, sepertinya dia akan mencoba mengangkat tumpuan dengan segenap kekuatannya.

Tina, Palna, Krul, dan Iblis perempuan itu semuanya berpikir bahwa itu benar-benar tidak mungkin.

Namun, Rex, mengingat ketidakmasukakalan Tanduk iblis biru yang telah dimasukkan ke dalam tumpuan tadi, berkeringat dingin saat ia berpikir bahwa hal itu mungkin terjadi.

Beberapa detik setelah Rex berpikir, retakan mulai muncul di tanah.

“Itu tidak mungkin.”

Segera setelah retakan terbentuk, mereka melebar dan terbelah, menyebabkan suara keras dan bergema. Setelah tanah bergetar dan sebuah ledakan besar berguncang, Kagami mengangkat alas tumpuan Pedang Suci, seolah-olah dia merupakan perwujudan dari kemarahan bumi.

Debu dan pasir memenuhi udara, dan suara berisik bergema dari tanah, seolah-olah tanah tersebut telah tercabik-cabik.

Tanah itu bertebaran di depan Rex. Kagami, yang berdiri agak jauh, menatap Rex dengan senyum berseri-seri.

“Hei?”

Kagami membuang tumpuan itu saat dia berbicara, dan itu mendarat dengan bunyi gedebuk. Setelah melihat ini, semua orang terdiam.

Penduduk desa yang normal ini telah melakukan tindakan keterlaluan seperti itu dengan tenangnya .

Semua karena peranan warga desa. Tidak ada peran/role yang mampu melakukan hal seperti itu, namun warga desa muda di depan mereka telah menunjukkan hal yang sebaliknya.

Rasa takut menerobos tubuh Rex, di bawah guncangannya. Sampai sekarang, seperti apakah orang yang berlatih sendiri atau sudah familiar dengan pertarungan, dia mengira tidak akan ada manusia lain seusianya yang sebanding dengannya.

Rex menyadari bahwa tidak ada yang tidak mungkin dan pikirannya tersentak. Orang yang berdiri di hadapannya adalah perwujudan monster.

“L-Level?”

Rex nyaris tidak berhasil mengeluarkan pertanyaan itu dari mulutnya.

“999.”

Kagami berhenti menggodanya dan dengan santai menampilkan Jendela Status dan Perannya.

Gambaran yang ditampilkan dengan jelas dinyatakan,
Peran: Penduduk desa
Level: 999
Semua orang di ruangan itu terdiam, seolah-olah mereka telah berubah menjadi patung.

Tinggalkan Pesan