Prolog

“Beristirahatlah dengan tenang.”

Seorang Pria berdiri dihadapan batu nisan, wajahnya tampak penuh penyesalan dan keengganan setelah meninggalkan kuburan itu.

“Tuan, Apa anda akan kembali ke pangkalan.”

Seorang utusan berbicara pada Pria itu, bicaranya pelan takut menyinggung atasannya itu.

“Kembali.”

…..

Rubinart Camellia, namanya umur 25 tahun, calon marsekal muda yang dipilih langsung di kerajaan Azure Dragon Kingdom. Sejak umur enam tahun dia sudah dilatih dalam ketentaraan dipasukan khusus ‘Shadow Killer’.

Pasukan khusus melakukan pembunuhan tanpa amnesti.

Banyak yang beredar tentang julukan pasukan khusus ini dalam militeran. Tapi yang paling cocok digambarkan dalam benak banyak anggota militer adalah ‘Tyran’.

Tanpa rasa takut, berdarah dingin, dan sepenuhnya dilatih untuk menjadi pembunuh professional.

—— kesampingkan hal itu, semuanya sudah berakhir, dia sekarang hanya pengangguran dipinggiran kota yang selalu menggali makanan disetiap tong sampah di belakang restoran.

“To-tolong!”

Di balik gang gelap, terdengar suara nyaring.

Awalnya dia berusaha untuk tidak peduli dengan teriakan itu, semakin dia menjauh, semakin dia merasa sesuatu berlawanan dengan dirinya.

Berlari cepat dalam bayangan, dia mencari sumber suara yang semakin terisak-isak, dan tiba-tiba sunyi.

Sepertinya, aku terlambat.’

Dia melihat wanita yang sudah berlumuran darah di tanah, matanya tidak menunjukan penyesalan atau berduka dia melihat itu seperti sudah biasa terjadi.

“To-, tolong….”

Saat hendak pergi ditempat kejadian, dia mendengar suara lirih lagi melihat wanita itu yang berusaha mengangkat wajahnya.

Matanya membuka menutup, berusaha melihat siapa pria di depannya ini. Dan lalu jatuh lagi.

“Keberuntungannya cukup bagus.”

Rubinart memeriksa luka yang ada di tubuh Wanita itu, luka tusukan yang hampir mengenai organ vitalnya kalau saja penjahat itu menekan tebih kuat, Wanita itu sudah menjadi mayat dingin saat Rubinart datang.

Rubinart berusaha menekan pendarahan dengan menutup luka Wanita itu dengan bajunya diikat kencang setelah selesai dia menggendongnya untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.

….

Setelah mengantar Wanita itu ke rumah sakit, Rubinart sekarang duduk sendirian di taman.

Merenung melihat bintang-bintang yang kecil disana.

“Apa Anda sedang luang, Tuan?” Seorang Pria duduk begitu saja disamping Rubinart. “Setelah Anda keluar, semua urusan menjadi semakin rumit. para politikus sudah mulai memasuki militer dan berusaha membangun pondasi mereka, aku takut, kedamaian yang ingin Anda cari akan sirna nantinya.”

Rubinart menatap sejenak Pria itu. “Sudah kukatakan sebelumnya, aku tidak akan peduli dengan semua itu.”

“Sepuluh tahun menjalankan invasi tiga negara, tiga tahun berperang melawan bangsa Elves, dan dua tahun untuk perebutan tahta pangeran ke- 2 ….” Rubinart berhenti sejenak menarik napas dalam-dalam. “Mereka semua berbicara tentang kesejahteraan dan perdamaian, sampai pada akhirnya, itu omong kosong.”

“Aku tidak berpikir seperti itu, Tuan Marsekal!” Pria itu membantah dengan tegas. “Anda mungkin tidak menyadari, kalau saja kedamaian sudah tercipta setelah Pangerang ke-2 menjabat. Anda sudah merasakan sendiri saat ini, dan anda melihatnya saat ini.”

Rubinart menggelengkan kepalanya pelan sambil tertawa. “Kau lucu seperti biasanya, Edwin. Apa otakmu melemah setelah masa damai ini?”

“Tapi itulah yang terjadi, Tuan!”

“Tidak. Kau mungkin tidak berpikir tentang sesuatu, negara kita ini akan dihancurkan suatu saat oleh sebuah organisasi yang bergerak sebagai penyeimbang— apa kau memiliki rokok?”

Edwin memberi Rubinart Rokok dan korek apinya, Rubinart menyesap sebatang mengeluarkan asap asam. “Mereka sudah terkubur lama, bergerak dalam bayangan yang bahkan kau tidak lihat dan mereka lebih ganas dan bengis daripada tim ‘Shadow Killer’. Aku tidak tahu dari mana Organisasi itu berasal tapi aku yakin dengan adanya mereka, mereka bisa meruntuhkan sebuah kerajaan sekalipun.”

“Tuan…” Edwin tidak mengerti apa yang dibicarakan Rubinart dia memilih diam dan mendengarkan apa yang dikatakan Rubinart dengan serius.

Rubinart menyesap rokoknya lagi dalam-dalam lalu memejamkan matanya.

Siluet kenangan dihari pembantaian timnya saat menjalankan tugas yang sangat rahasia disebuah kota. Dia sendiri tidak bisa melupakan ini, dua puluh sembilan anggota timnya mati dibawah satu orang dan menumpuk mayatnya seperti gunung disetiap anggotanya yang mati dipakaikan kalung berbentuk timbangan.

Dia sendiri ada disana, melihat dengan jelas saudaranya dibantai satu persatu menyisakan dia seorang.

Bagian terpentingnya adalah saat Rubinart melihat pembunuh itu ….

Setelah membuka matanya lagi dia menghela napas panjang. “Kembalilah, laporkan kembali setelah tiga hari mendatang.”

“Baiklah, Tuan.” Saat Edwin berjalan agak jauh ia tiba-tiba berbalik melihat ke Rubinart. “Tolong kebalikan Rokok dan korekku, Tuan.”

Rubinart batuk-batuk melihat Edwin dengan dingin lalu melempar rokok dan korek Edwin.

‘Dia tidak tahu kalau rokoknya aku ambil setengah,’

Rubinart tersenyum puas melihat enam batang rokok ditangannya.

Hai teman, apa kau melihatnya? Aku sudah melakukan satu kebaikan, kan? Apa kau bisa mengadu kepada tuhan yang kau percayai supaya dosaku diringankan.

Act  1 :

Mereka berjuang untuk diri mereka sendiri. Berusaha mendapatkan lebih banyak … Sampai akhir mereka tahu kalau mereka melakukan hal bodoh.”

Tinggalkan Balasan