Chapter 3 : Penguntit

Arman Alcide. Seorang keturunan langsung dari Duke Alcide, dari dahulu dia sudah terbiasa dengan sendok emas dimulutnya. Menikmati semua yang ada dengan kekayaan dan hidup tenag dengan latar belakang yang mempuni seperti itu.

Dia terkenal dalam pasukan khusus penyihir dengan talenta langka seperti aset yang dijaga oleh negara.

Namun sejak dia dikalahkan oleh orang miskin antah berantah seolah harga dirinya sudsh tercoreng begitu saja. Walau aset yang dia pertaruhkan hanya sebagian dari kekayaannya dia merasa harus mengambil bagian dari apa yang harus dia punya.

Saat ini dia sudah mengumpulkan sepuluh ksatria yang berada dibawah kendali Duke Alcide. Kesepuluh ksatria ini sudah melakukan sumpah setia untuk keluarga Alcide jadi dia bisa menggunakannya untuk memberantas orang miskin itu dan mengambil uangnya kembali.

“Aku ingin sepuluh hari dari sekarang. Kumpulkan semua informasi kemana biasanya dia pergi dan dengan siapa dia berinteraksi.” Armans memerintahkan untuk mencari orang miskin itu. “Aku tidak ingin diketahui penjaga setempat jadi lakukanlah eksekusi secara rapih, supaya nama keluarga tidak terbawa dalam opini publik.”

Sepuluh Ksatria itu mengangguk pelan sebelum membubarkan diri mencari orang miskin yang disebut itu.

***

“Yoo Mike, apa kau memiliki apel yang bagus hari ini,” Rubinart menyapa seorang penjual apel yang biasa dia kunjungi. “Mm… aku ingin dua puluh kuharap kau memilihkanku apel yang manis kali ini, Mike.”

Mike tersenyum lebar, dia sudah mengetahui Pria di depannya tidak biasa membeli apel dan biasanya hanya meminta apel setengah busuk untuk dimakan. Ya setidaknya Mike masih memiliki hati nurani untuk berbagi dengan Rubinart.

“Tenang. Kualitas apelku terjamin di pasar ini,” Mike mengambil dua puluh apel yang berukuran besar. “Aku dengar kau pergi berkunjung ke panti asuhan, apa kau menyukai suster muda disana, teman?”

“Hahaha… aku tidak berpikir seperti itu Mike.” Rubinart mengambil keranjang yang diisi ape yang dia pesan. “Kau tahu, aku hanya kasihan dengan keadaannya saja. Hai, ngomong-ngomong berapa harganya?”

“Untukmu gratis seperti biasa,”

“Ah, aku takut kau akan diomeli istrimu lagi Mike.”

Mike tersenyum masam  bersalah, dia selalu tigur oleh Istrinya karena sering memberi apel kepada orang miskin nan culas seperti Rubinart. Dengan perawakan marah istrinya Mike bisa membayangkan hal terburuk yang akan terjadi.

“Tenang aku yang menanggung.”

“Huuh… kau seharusnya memperhatikan dirimu sendiri, Mike.”

Rubinart melempar koin emas ke Mike dan berjalan pergi setelahnya. Dia tidak ingin memperpanjang pedebatan kosong seperti ini walaupun merasa kasihan dengan Mike yang mendapatkan istri seperti itu.

Berjalan menuju panti asuhan yang lima hari yang lalu dia kunjungi. Seksrsng tempat itu sudah lumayan hidup, dengan bunga yang menghiasi halaman dengan tambahan taman kecil untuk anak-anak yang baru saja dibangun. Sepertinya uang donasi yang ia berikan cukup membantu.

Irma yang sedang mengawasi anak-anak sambil ikut bermain tampak bahagia dengan adanya perubahan yang signifikan itu. Ia melihat Rubinart yang berdiri di luar gerbang sambil memegangi keranjang berisi apel.

“Halo,” Irma menyapa Rubinart sambil tersenyum cerah. “Sungguh, dengan uluran tangan dermawan Tuan. Mungkin anak-anak harus mencari makanan ke gereja pusat lagi hari ini,”

“Tidak, saya hanya melakukan apa yang diajarkan Bunda Althea.” Rubinart tidak terbiasa dengan pujian seperti itu. “Aku membawakan apel untuk anak-anak.”

Mereka berbincang sebentar di depan pintu saat Irma mengajak Rubinart untuk mssuk kedalam karena Ibu panti asuhan ingin melihat darmawan yang menolong mereka kemarin. Tapi Rubinart menolak takut mengganggu kenyamanan dengan penampilannya.

Irma juga menjelaskan progres pembangunan panti asuhan yang bertahap, dia terus berbicara hanya saja Rubinart membalasnya dengan anggukan, ‘Iya’, ‘tentu bagus sekali’, dan ‘Aku berharap yang terbaik’.

Rubinart tidak ingin sebuah hubungan sebenarnya, hanya sebatas dengan memberi dan menerima saja. Itu karena sudah menjadi kebiasaannya karena sebagai orang yang terbiasa untuk sendiri setelah melalui perang sejak kecil.

“Aku harus pergi.” Berusaha lepas dari omongan Irma yang terus berjalan tanpa henti

“Eh, aku tidak berharap akan secepat ini. Apa kau yakin tidak ingin masuk?” Irma masih memaksa Rubinart untuk diperkenalkan kepada Ibu panti asuhan.

“Tentu saja, mungkin lain kali?”

Irma hanya menghela napas panjang sambil memijit keningnya, ia tidak memahami jalan pikir pria dihadaannya ini dia tidak ingin masuk walau sekedar berkunjung maupun sekedar melihat-lihat sebenar.

“Tentu. Harap hati-hati.” Irma pun hanya pasrah. “Lain kali, tolong urus dirimu, aku tahu hidupmu di jalanan tapi kau harus menjaga kebersihanmu sendiri, kan?”

***

Diantara gang sempit, mereka semua sedang memperhatikan Rubinart. Mereka semua terlatih untuk menjadi pembunuh tanpa suara, utusan Armans, semuanys dicatat apa yang dia lihat dan dengar untuk dilaporkan nantinya.

“Satu melapor, sisanya berpencar.”

Sebuah kode etik dengan gerakan tangan sebagai tanda membuat mereka mulai berkordinasi tanpa hambatan.

———— Rubinart tentu menyadari gerakan mereka yang mengikutinya dari belakang. Sudah beberapa kali dia diikuti, sering menyapa penguntit itu di kramaian dan berlaga meminta tolong.

“Mm… sepertinya aku merasa kau ini sangat menyukai hobi menguntit, ya?” Diantara gang buntu Rubinart berdiri dengan satu tangannya dimasukan ke kantung celana. “Aku sudah mempringatkan kalian, kan? Apa kalian sudah ingin mati.”

“Mm… Kalian tidak ingin menampakan wajah kalian?”

“Ya, lagipula aku ingin bermain, sudah lama aku tidak meregangkan badanku.”

Tinggalkan Balasan