Chapter 2 – Terima Kasih!

“Aku tidak salah lihat, kan? Orang miskin ini menang sepuluh kali!”

“Lihatlah Chips yang menumpuk seperti gunung itu!”

“Aku tidak mengira, dia akan sangat beruntung memenangkan game sepuluh kali.”

Semua para Borjuis melihat Rubinart yang sedang memanen uang dari para bangsawan ini. Para bangsawan ini silih berganti saat salah satu dari mereka habis, dalam hal ini Rubinart seperti memeras susu di sapi yang jinak.

“Aku keluar.”

Sudah memanangkan banyak permainan, Rubinart akhirnya mundur dari kursinya. Tumpukan chips yang banyak membuat orang semakin gila saat mereka tahu kalau orang miskin ini mampu memenangkan banyak.

“Tolong tukarkan Chipsnya,” Rubinart menyerahkan kartu hitam kearah resepsonis

“Ba-, baik Tuan.” Resepsonis itu berusaha meyakinkan dirinya, kalau pemuda miskin di depannya sudah menjadi miliarder sekarang

***

Walau sudah memenangkan semua uangnya, dia masih berlagak menjadi orang miskin yang berkeliaran di Ibu kota, mencari makan di tong sampah, dan meminta-minta seolah yang ia dapatkan tidak berharga sama sekali.

Rubinart terbiasa menjadi seperti itu sejak mengundurkan diri dari ketentaraan, kekayaannya tidak pernah tersentuh sekalipun baik uang dan properti yang diberikan raja.

Uang yang ia dapatkan sisanya ditukartkan lima koin emas hitam untuk donasi panti asuhan dipinggiran kota.

Ngomong-ngomong panti asuhan dipinggir kota, hampir setiap hari dia melihat rumah panti asuhan itu, kalau dipikir kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi untuk ditinggali. Bagaimana tidak, rumah lusuh yang hampir rubuh itu masih harus menampung sepuluh anak di dalamnya.

Kondisinya sangat buruk, ya setidaknya masih ada makanan untuk hari esoknya.

“Permisi.” Di depan pintu panti asuhan Rubinart mengetuk pelan. “Apa ada orang di dalam?” sesekali dia melihat kedalam jendela untuk mengecek

“Tu-, tungu.”

Seorang wanita muda membuka pintu dengan tergesa-gesa.

“Maaf membuat Anda menunggu,” Wanita itu menundukan kepalanya seraya meminta maaf karena ketidak sopanannya. “Saya pengurus panti asuhan ini, nama saya Suster Irma, Ada yang perlu saya bantu?”

Dia memiliki rambut putih pucat sebahu, pakaian suster berwadna sungguh cocok untuknya, maksudnya mempesona …. bagaimanapun dia memiliki warna mata hijau emerald yang berkilau. Singkatnya dia sangat cantik dengan senyum yang indah menyapa Rubinart.

‘Bukankah, dia wanita yang aku selamatkan kemarin malam? Kenapa dia sudah ada disini saat ini, seharusnya dengan biaya pengobatan yang aku berikan cukup sampai lukanya sembuh dengan perawatan yang mempuni.’

Rubinart termenung melihat Irma sampai Irma pun kebingungan karena Rubinart menatapnya.

‘Astaga, bajingan mesum mana lagi ini!’melihat Rubinart yang melihatnya tanpa berkedip sekalipun membuatnya kesal. “Tuan!”

Suara Irma membuat Rubinart kembali sadar. “Maaf, maaf. Tentu saja aku memiliki alasan ke sini,” Rubinart mengambil beberapa koin emas hitan yang tadi ditukarkan dikantungnya. “Mm.. aku ingin memberikan sedikit uang yang aku kumpulkan, apakah Anda bisa menerimanya?”

Melihat uang yang begitu banyak Irma tidak bisa percaya, bagaimana bisa seorang gembel seperti dia mendapatkan uang sebanyak ini?

“Tuan, sungguh saya tidak yakin uang siapa yang Anda berikan.” Irma seolah sedang mengintrogasi Rubinart dengan tatapan yang berubah tajam. “Walau kami hanya panti asuhan lusuh, kami memiliki prinsip Tuan.”

“Ah. Tenang saja, aku memenangkan Lotre kali ini. Jadi tolong ambilah.”

Rubinart menyodorkan uangnya, berusaha meyakinkan Irma walau dibumbui sedikit kebohongan di dalam perkataannya. Dia tidak akan meberitahu kalau dia memenangkan perjudian miliaran emas.

Irma menatap Rubinart sekali lagi, sedikit enggan menerimanya dari Pria muda miskin dihadapannya dia pikir kalau Rubinartlah yang menurutnya membutuhkan uang. Dengan pakian lusuh dan kotor, rambut yang panjang tidak terurus, bau dan dekil … tidak bisa lagi digambarkan.

Dengan uang yang ia dapatnya setidaknya, perubahan drastis tampak terlihat dengan jelas.

“Tenang, aku mempunyai bagianku sendiri.”

Rubinart berusaha tersenyum, sejujurnya, dia tidak yakin senyumnya bisa meyakinkan Irma atau tidak karena dia hampir tidak pernah tersenyum saat di kemiliteran ataupun saat sekarang ini.

“Baiklah, Terima kasih Tuan,” Irma pun menyetujui pemberian Rubinart dan menaruhnya dikantong baju. “

Kruuk….

Suara perut Rubinart terdengar membuatnya hampir salah tingkah dan malu karena rasa lapar yang tiba-tiba dia rasakan.

“Kalau begitu saya pergi dulu.”

“Apa Anda tidak ingin masuk dulu? Aku akan menyiapkan makan untuk Anda,” Irma menahan Rubinart kalau dia akan memasakkan sesuatu untuk Rubinart

“Tidak usah. Makanan di tong sampah belakang restoran sudah cukup membuatku kenyang.”

Rubinart pergi begitu saja meninggalkan Irma yang mematung karena perkataannya. Entahlah, dia tidak ingin berlama-lama disana karena makanan sisa restoran mewah akan segera dimasukan tong sampah kotor kalau dia datang terlambat.

——— Sementara itu, melihat sosok Rubinart yang sudah sangat jauh, Irma menyadari sesuatu.

‘Rambut merah, dengan mata berwarna merah chrimson, dan alisnya juga merah, tunggu ….’

Dia menyadari kalau Rubinart yang menolongnya saat itu, sebelumnya dia sudah bertanya kepada dokter yang merawatnya tapi dia hanya memberikan ciri-ciri siapa yang menyelamatkan dia malam itu.

Astaga aku lupa mengucapkan terima kasih untuk diriku sendiri!

Tinggalkan Balasan