Chapter 1 – Menjadi Pria Miskin Diantara Orang Kaya

Sudah satu tahun Rubinart menjadi gelandangan miskin di Ibu kota yang mulai menjadi hingar bingar masyarakat mewah. Dia sendiri menjalani kehidupan yang bahkan dibilang lebih buruk daripada kehidupannya saat di kemiliteran.

Dia melihat orang-orang kaya yang keluar masuk di bar, restoran, rumah judi, dan bahkan rumah bordil. Mereka melakukan semuanya yang mereka suka selagi ada uang.

Borjuis yang kaya, Rubinart berdir di depan rumah judi.

“Tempat ini dilarangan untuk rakyat miskin.”

Seorang penjaga pintu melihat Rubinart dengan ganas sambil menghalangi pandangannya, membuatnya melihat wajah penjaga itu dengan dingin.

“Aku hanya melihat, aku tidak akan menodai lantai rumah judi ini.”

“Silahkan pergi.”

Teelihat jelas penjaga pintu itu melihat Rubinart dengan ketidak sukaan, karena menurutnya dia hanyalah seseorang yang tidak sedap dipandang. Lagipula dia adalah gembel.

“Ah~ baiklah-baikah, jalankan tugasmu dengan baik.”

Rubinart pergi begitu saja tanpa peduli.

Tiga puluh menit kemudian dia kembali ke rumah judi itu lagi, sambil melihat kedalam melihat para bangsawan memainkan poker dan lainnya dengan didampingi para wanita seksi disampingnya menambah betahnya dalam perjudian.

“Tuan, saya sudah bersikap murah hati dihadapan anda, apakah anda ……”

Rubinart melemparkan dua koin emas di hadapan penjaga pintu itu. Tanpa menunggu penjaga itu berbicara dia memasuki rumah judi.

Kalau Anda berpikir, kalau tempat judi adalah tempat yang menyenangkan, ya anda bisa merasakannya saat masuk tempat itu, ramai, penuh akan musik, lampu yang berkelap-kelip, wanita-wanita cantik yang berkeliaran, dan ya kalian bisa menyewa mereka. Tapi  setelah Anda bangkrut, Anda akan ditendang keluar secara paksa dan apabila Anda berhutang Anda akan menjadi buronan hidup atau mati sekalipun.

Rubinart mencari meja kosong di ruang VVIP, melihat kanan dan kiri, dia sedang diperhatikan orang-orang kaya itu.

“Tuan, Anda salah memasuki ruangan…”

Sekali lagi, tanpa perlu menunggu respsonis cantik itu berbicara lebih jauh, Rubinart melemparkan koin emas hitam dengan simbol berkepala naga ke kaki resepsonis itu.

(Author note : 1 emas hitam = 1000 emas, 1 emas = 100 silver, dan 1 silver = 10 copper)

‘Aku berpikir, apa aktingku bagus disini?  Aku berpikir ekspresi apa yang mereka buat saat melihat tantang orang miskin yang sombong.’

Setelah berputar-putar lama, dia mendapatkan satu kursi kosong diruang VVIP.

Resepsionis itu menatap Rubinart dengan ragu-ragu, seolah dia tidak ada hak untuk bermain ditempat ini dengan penampilan gembel dan bau busuk itu.

“Aku akan menukarkan sepuluh emas hitam.” Rubinart menyerahkan kesepuluh koin emas ke bandar langsung

Melkhat emas hitam diberikan ke bandar bergitu saja, mata empat orang kaya itu menyala.

Bandar wanita itu terperangah melihat uang yang demikian besar dihadapannya, jujur saja, sekian banyak tamu di VVIP mereka tidak akan melangkah lebih jauh dari tiga sampai lima emas hitam karena di tamu VVIP hanya untuk lima ratus koin sampai lima koin hitam.

Setelah memberikan Chips ke Rubinart Bandar cantik itu mulai mengacak kartu di tangannya. “Baiklah, tuan-tuan, saya Adelia Elisee, aku akan menjadi bandar yang adil untuk kelian semua.” Adelia menaruh kartu yang diacaknya tadi di depannya. “Seperti kalian ketahui, rumah judi ini akan memotong lima persen dari total chips yang anda menangkan; sementara untuk peraturan yang lainnya kalian bisa dengan tertip menjalankan permainan ini,”

Adelia mulai membagikan kartu satu persatu di hadapan, lima perserta yang bermain termasuk Rubinart.

‘Keberuntunganku masih SSS+++.’ Rubinart mengintip sedikit kartu yang dibagikan Adelia.

“Silahkan tuan Jonathan, untuk bertaruh pertama,”

Jonathan, berperawakan tinggi dengan wajah yang bisa dibilang tampan diusia tuanya, dia melirik ke empat peserta lainnya sebelum menyodorkan dua chip putih di depannya.

“Dua ratus silver pertama.”

Sisa dari peserta lainnya menaruh dua silver di depan maka Adelia mulai membagikan satu kartu lainnya.

Rubinart mengambil kartu itu dan melihat, angka tiga dikartunya. Dia menggelengkan kepalanya pelan seolah memberi tanda, kalau dia sedang diposisi kurang menguntungkan.

Setelah membagikan satu persatu kartu itu, Adelia mulai kembali, Jonathan mengambil Cek, Emil mengambil cek, Marc mengambil cek, Arman mengambil cek, dan juga terakhir Rubinart mengambil Cek.

Tidak adak pilihan, maka Adelia memberikan kartu ke empat untuk perserta.

‘Aah~ surga sungguh surga,’

Melihat kartunya mendapatkan angka dua lagi dia memasang wajah sedih, dia seperti memberi tahu lagi kalau dia sedang sial.

“Enam Chip emas.” Jonathan menyeringai kecil sambil meletakan enam chip ke depan

“Enam chip emas lima chip silver.” Emil memimpin ke depan sambil menyerahkan chipnya

“Off!” Marc menahan kartunya dan menaruh kembali ke Adelia

“Tujuh chip emas.” Arman berkata datar menyerahkan Chipnya

Terakhir Rubinart, jelas dia tidak mau melewatkan kesempatan besar ini. Sembilan belas emas hitam ditambah ! Astaga kaya mendadak. Diluar wajah frustasi jelas dia tertawa puas di hatinya.

“Tujuh Chip emas lima chip silver” Rubinart berkata pasrah sambil memijat dahinya

(Catatan : 1 chip emas = 500 emas, 1 Chip silver = 10 silver}

Adelia membagikan kembali kartu kelimanya satu persatu ke peserta dengan elegant nan cantik.

“Tambah dua emas.”

“Tambah tiga emas.”

“Tambah lima emas.”

“All in.”

Suara Rubinart pelan, tetapi membuat diam pemain dimeja. Mereka berpikir apaan-apaan gembel ini?

“Silahkan tambahkan,”

“Off.”

“Off.”

“All in.”

Sekarang tersisa Rubinart dan Arman, yang masih bermain diatas meja. Arman melihat Rubinart yang berserbangan dengan sombong lalu menyeringai diam-diam.

“Letakan kartu anda di atas meja, buka setelah saya beritahu Anda.” kata Adelia sambil mengumpulkan chip ke tengah meja. “Silahkan untuk tuan Arman,”

Arman membuka kartunya persatu seolah sedang pamer kalau dia mendapatkan kartu bagus dan menampilkan wajah sombongnya. Dimulai dark enam, tujuh, delapan, sembilan, dan sepuluh … kartu jenis berderet lumayan besar

“Tuan Arman, kartu berderet!” Adelia menatap kagum. “Silahkan untuk tuan,”

Rubinart lansung membuka kartunya seperti Arman lakukan. Dua, dua, dua, tiga, dan tiga FullHouse, cukup untuk menampar wajah Arman secara langsung.

Arman menatap Rubinart dengan ketidak percayaan, matanya memerah hendak marah, tapi langsung kembali menjadi tenang setelah melihat penjaga melihatnya.

“Keberuntunganmu cukup bagus,” kata Arman sambil tersenyum kepada Rubinart

“Tidak juga.”

“Hahaha aku tidak berpikir seperti itu. Kau tahu diperjudian juga mengandalkan keberuntungan, kuharap kau bisa beruntung terus,” sebelum Arman beranjak dari kursinya dan keluar ruangan, dia menatap Rubinart dengan kebencian.

Satu permainan dimenangkan dengan mudah.

Kemenangan Rubinart menarik perhatian orang sekitar mereka menyaksikan Rubinart siorang gembek bau busuk ini memenangkan permainan besar.

Sekali, dua kali, tiga kali ….

“Astaga, dari mana orang ini berasal?”

“Aegh aku bisa gila melihat gembel ini mendapatkan kartu besar terus

“Sialan! Keberuntungannya sangat kuat!”

…..

Banyak orang yang membicarakan Rubinart, sementara orang yang berada di meja judi ini sudah terbakar amarah karena kekalahan beruntun.

Tinggalkan Balasan