Volume 2 Chapter 4 Part 5

“…………Kau mengerikan.”

Pada saat yang sama ketika mereka kembali ke kamar mereka.

Tifalycia bergumam sambil terlihat cemberut, Reiji menahan dirinya untuk menguap dan berbicara.

“Aahn? Soal membuatmu duduk di depan Seire? ”

“Itu juga sangat mengerikan, tapi …… tidak, itu sebenarnya sangat mengerikan!”

Mungkin dia merasa malu setelah mengingatnya, Tifalycia berdeham di akhir kalimatnya.

“Kenapa kau tidak memberitahuku yang sebenarnya?”

Pergi ke halaman adalah untuk memancing Seire keluar.

Untuk memberi tahu mereka bahwa Reiji dan kawan-kawan sama sekali tidak percaya pada 「Sirena」 tanpa adanya syarat, dan sebaliknya, menunjukkan sikap yang jauh dari kata ramah——

“Hal seperti itu, hanya ada satu alasan.”

“A …… Apa itu?”

Tak ada gunanya untuk mengatakannya pada Tifalycia. Atau mungkin, mengatakan hal itu pada Tifalycia kemungkinan besar akan membuahkan kegagalan ── bagaimana jika dia mengatakan itu?

Sambil mengabaikan Tifalycia yang mengkhawatirkan akan hal itu…

“Itu terlalu merepotkan.”

Jawaban Reiji bisa dianggap lebih mengerikan daripada imajinasinya dalam arti tertentu.

“…………Kau……”

Tifalycia tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk menyuarakan perlakuan buruk yang diterimanya, sementara Reiji berbalik ke samping dan berbicara.

“Sebaliknya, bukankah aku sudah bilang? Kemarin aku tidak tidur. Jadi biarkan aku tidur. Ah, sekarang aku akan tidur nyenyak. “

“Ha!? Kau mau menghentikan penjelasanmu di tengah jalan? Pada akhirnya apa yang ingin kau lakukan besok!? ”

“Tidak ada.”

“…… Haa?”

“Apa pun yang terjadi, maka terjadilah …… Fuwa …… Ah, aku sudah tidak kuat.”

Suara Reiji dipenuhi dengan nada kantuk, dan dia hanya berbaring telentang tanpa mempedulikan cahaya yang masih menyala.

“Tung—─”

Saat mendengar suara dengkurannya, Tifalycia menurunkan bahunya pada perilaku Pahlawan yang egois itu.

Jika sudah begitu, Reiji mungkin tidak akan bangun bahkan jika langit itu runtuh.

Tampaknya mereka harus menghadapi hari berikutnya tanpa persiapan.

“Selamat malam……”

Sambil berbisik tanpa daya, dia hendak keluar dari kamar.

“Kau mau pergi kemana?”

Leu duduk di sebelah Reiji seolah itu adalah hal yang alami dan menatap lurus ke arah Tifalycia.

“Eh …… aku akan … kembali ke kamarku.”

Kamar-kamar yang disiapkan oleh 「Sirena」 berjumlah tiga kamar.

Reiji, Leu, Tifalycia masing-masing mendapatkan satu kamar.

Tifalycia berniat untuk kembali ke kamarnya sendiri.

“Ini adalah wilayah musuh. Cobalah untuk … tetap bersama-sama sebanyak mungkin. “

“Eh ……”

Meskipun itu mungkin masuk akal …

Novel ini diterjemahkan oleh 4scanlation.com, Mohon tidak mengcopy/memirror hasil terjemahan di web ini tanpa izin

“…… U-Umm, mungkin sudah terlambat untuk mengatakan ini sekarang, tapi …… bermalam di kamar seorang pria itu …… umm, itu akan menimbulkan berbagai masalah kan ……? ”

Mungkin karena dia sering mengadakan 「Showdown」 di kamar Reiji saat mereka berada di Tistel, dia sudah menjadi kebal terhadap kesan semacam itu, tapi itu benar-benar tak terbayangkan bagi seorang wanita yang belum menikah untuk tinggal di kamar seorang pria di sepanjang waktu.

Terutama ketika Tifalycia tidak memiliki kekebalan terhadap laki-laki ── Tifalycia menengok Reiji yang sedang tertidur dan tersipu sambil memikirkan hal-hal yang bersifat delusi.

“Itu sudah sangat larut malam. Juga ── bagaimana mungkin seekor anjing … tidak berada di sisi tuannya? “

“……!? Apa kita masih harus melanjutkan hal itu !? ”

Yah, dia jelas masih mengenakan telinga anjing.

Biasanya, permainan hukuman seharusnya sudah berakhir saat Reiji ──

“Kenapa … kau pikir itu sudah berakhir?”

Dia memiringkan kepalanya tanpa menunjukkan emosi.

Tifalycia menelan air ludahnya terhadap tekanan aneh yang dia terima.

Kemudian, ketika dia menyadari bahwa Leu diam-diam menunjuk ke arah lantai, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyuarakan rasa keberatannya.

“Tolong tunggu sebentar. Bahkan sebelumnya, satu-satunya orang yang mengalahkanku adalah Reiji. Tidak ada alasan bagiku untuk── ”

“Duduk.”

“Aku …… aku tidak akan mendengarkanmu. Aku masihlah Penguasa 「Liberator」 … “

“DU-DUK.”

Bola-bola mata berwarna merah itu terlihat bersinar di dalam ruangan yang gelap.

“…… Ah──Uu.”

── 「Strega」 bisa menerapkan sihir kutukan pada lawan mereka hanya dengan menggunakan mata mereka.

Dia tiba-tiba teringat ungkapan yang dulu pernah dia dengar dari ibunya.

Ketika Tifalycia kembali tersadar, dia sudah duduk dengan tenang di tempat yang ditunjuk Leu.

“Kepatuhan adalah … hal yang baik. ── Selamat malam. “

Setelah mengatakan hal itu, Leu segera mematikan lampu, meninggalkan Tifalycia yang bergumam seorang diri.

“Uuu …… Apa yang sebenarnya aku lakukan ……”

Gumaman-gumaman itu menghilang ke dalam kegelapan malam, dan hanya suara nafas yang sunyi saja yang tersisa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *