Chapter 41.1 – Pabrik

“Ahhnn … nnnn..Ahnn … Ada … Ah … Aaahh … Bagus …”

Tetra berkata dengan suara seksi.

Aku menambah kekuatan dalam gerakanku.

“Aahh … nnahh … Itu … .terlalu… kuat … hya!”

Tetra berkata dengan suara gelisah.

Dia hampir tidak bisa bernafas saat dia mencoba untuk melihatku dari balik punggungnya dengan matanya yang terlihat basah dan seksi.

Aku tidak percaya Tetra yang biasanya keren akan mampu membuat wajah bergairah dan dengan emosi semacam itu.

Aku meningkatkan kekuatan yang meninggalkan ujung jariku.

“Hyaa… DAME… nnnn! Aaahh, kkuhha! ”

Aku kemudian meringankan gerakanku.

“Ahh … lebih keras … lebih kuat! .. hyaa!”

Aku menelusuri bagian tubuh Tetra di atas pakaiannya dengan jemariku. Terkejut oleh sensasi itu, tubuh Tetra berguncang karena merasa senang.

“Kau tidak perlu memaksakan dirimu tahu? Mari kita selesaikan ini dengan cepat. ”

Aku berkata kepada Tetra ketika jari-jariku merayapi tubuhnya. (͡ ° ͜ʖ ͡ °)

Tubuh Tetra bergetar dalam kenikmatan.

“…. Tolong jangan menggodaku …” kata Tetra dengan suara manis saat dia menghadap kearahku.

Tapi barusan …

“Bukankah kau memintaku untuk berhenti?”

“… Itu pembullyan … nnnfwaa … nnn … jangan, tapi lanjutkan …”

Aku tidak mengerti.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Aa … Belai aku lebih keras …”

“Bukankah menyakitkan?”

Lalu Tetra berkata saat pipinya merona:

“Aa … rasanya lebih baik ketika itu menyakitkan …”

Gadis ini … itu tidak bisa dipungkiri huh?

Aku tersenyum ketika aku perlahan-lahan memberi lebih banyak kekuatan pada gerakanku

“Hiyaa!… .nnkuh… dame! .. haaa… .fuhaa ……”

Kau baru saja mengatakan “dame” huh?

“Kafuu… .jangan berhenti! .. lagi!”

“Sungguh Gadis kecil yang sangat keras kepala. Sungguh. Karena kau menginginkannya, maka aku akan memberikannya kepadamu. ”Kataku saat aku menggodanya dengan jari-jariku.

Tetra gemetar dan berkata dengan suara gelisah:

“To …. Tolong! Disana!!… ahh! Pijat aku di sana! ”

Aku tidak mengerti. Kalau saja dia memberitahuku dengan jelas.

Aku sulit untuk melihat kearah Tetra.

Dia terlihat sangat gelisah. Dia juga bernapas dengan kasar. Jika aku terus menggodanya seperti ini, pastilah dia akan terlihat terlalu menyedihkan. Kukira itu tidak ada gunanya. Kita lakukan saja sesuai dengan keinginannya!

“Aah! Itu datang! ”(͡ ° ͜ʖ ͡ °)“ Ttha… ffuahh!… Hhea… nnkuuaaa… nn… tidaak lagi! Aaaaaaaahhhhh! ”

Tubuh Tetra bergetar hebat, mulutnya setengah terbuka saat dia mencoba menghirup udara. Air liurnya menetes dari bibirnya saat dia berbaring di tempat tidur karena kelelahan.

Lalu pintu terbuka pada saat yang bersamaan.

“Apa yang kalian berdua lakukan pagi-pagi begini !!! Hn..wa. Apa? “(Soyon)

“Ada apa?” Aku bertanya kepada Soyon yang bingung yang baru saja memasuki ruangan saat aku memisahkan tanganku dari bahu Tetra.

“Ummm … Apa yang kalian lakukan?” (Soyon)

“Oh! Hanya sebuah pijatan. Kami pergi untuk mendapatkan beberapa data sensus yang dilakukan kemarin kan? Hanya saja, kami merasa sedikit tegang setelah itu jadi kami pikir kami akan membantu melonggarkan ketegangan kami satu sama lain. ”

Hanya kami berdua yang saling bergiliran memijat satu sama lain.

Tentu saja, hasilnya sangat bermanfaat. Kami menentukan jumlah populasi sekitar 32.423. Dengan ini, kami seharusnya bisa mengumpulkan pajak dengan benar.

Kalau dipikir-pikir, kami sepakat untuk melakukan sensus untuk Bartolo juga. Sungguh menyebalkan.

“Jadi … Apa yang kau butuhkan Soyon?” (Almis)

Wajah Soyon berubah menjadi memerah.

“Ah! … Tidak! … Aku salah paham …. Ah…. Tidak! … Sepucuk surat dari Raja Rosaith telah datang! ” Kata Soyon sambil menyerahkannya.

Apa ini?

“Apa yang dikatakan surat itu?” (Soyon)

“Nah, untuk meringkasnya, disitu tertulis :‘ cepat ajari aku metode pembuatan kertas!’.” (Almis)

Itu bukannya aku bisa mengajarkan cara pembuatannya seperti itu meskipun aku sudah menjadi pengikutnya. Lagi pula, itu harus bergantung pada kompensasinya.

“Tetra, Ayo pergi.” (Almis)

“Tidak … Aku ingin luagii.” Tetra berkata dengan suara manis setelah aku menggoyangkannya untuk bangun.

Apa yang gadis ini katakan?

Aku masih belum mendapatkan giliranku.

“…. Kau menggoda … Haa …” (Tetra)

Tetra bangun sambil meregangkan lehernya dari kiri ke kanan. Suara dari tulang-tulang terdengar saat dia meregangkan tubuhnya.

Lalu Tetra, yang kembali ke ekspresi dinginnya yang biasa, berpaling kepadaku dan berkata:

“Oke, ayo kita pergi.”

“Sebelum itu , bersihkan air liurmu.” (Almis)

Wajah Tetra menjadi berwarna merah cerah saat dia menghapus air liur di bibirnya.

4 pemikiran pada “Chapter 41.1 – Pabrik”

Tinggalkan Pesan