Chapter 18 – Dunia Berubah Dalam Sekejap

– 10 Tahun yang lalu, di sebelah utara Ista, Desa Nil.

Pertempuran kecil telah terjadi di tanah yang saat ini disebut sebagai First Lost.

Namun, konon di situlah invasi iblis dimulai.

Desa itu tidaklah menarik, tapi desa itu adalah desa yang damai dan riang, gaya hidup yang tidak berubah selama lebih dari seratus tahun, tapi satu hal memang telah berubah.

Itu adalah penyebaran Agama Salia.

Karena pengaruh agama, seorang imam dikirim dari Seneka dan sebuah gereja pun dibangun.

Untuk sebuah desa  tempat dimana kepercayaan akan roh sangat populer, tentu saja mereka menentang agama baru ini, tapi seluruh wilayah Ista ditekan oleh Seneka untuk mengadopsi agama tersebut. Desa-desa dan kota-kota yang menerimanya telah menerima dukungan dana dan hal-hal lain, dan untuk menerima dukungan itu, Desa Nil juga harus menerima ajaran-ajaran itu.

Orang-orang yang tidak bisa menerimanya adalah para tetua desa, dan di atas segalanya, para roh yang ada di Ungiving Forest.

Karena kehilangan dukungan terakhir di Desa Nil, jelas bahwa kekuatan roh akan melemah. Akibatnya, para dukun Desa Nil diserang oleh ketidakpuasan mereka, dan mereka yang bahkan kurang memiliki bakat dibandingkan para shaman dari masa lalu, tidak sanggup untuk menanggungnya dan mati.

Penduduk desa merasa takut dengan hal ini, dan meskipun ada beberapa orang yang mendukung roh-roh itu, kebanyakan dari mereka mencari tuhan baru dan pergi ke pendeta untuk meminta bantuan.

Entah itu karena keberuntungan atau kesialan, adalah hal yang aneh bagi pendeta semacam itu untuk dikirim ke daerah terpencil seperti Desa Nil, tapi dengan kekuatan keimanan yang dipegangnya, dia berhasil membangun sebuah penghalang untuk mencegah roh-roh itu datang kesana.

Kemudian, para penduduk desa mengatakan ini.

『Mereka yang tinggal di Ungiving Forest, adalah para iblis yang menyesatkan hati manusia. Apa pun alasannya, jangan pernah mendekatinya』

Para sesepuh yang pernah hidup bersama dengan para roh sekarang telah menerima kata-kata itu dan kehilangan kepercayaan mereka, dan para penduduk desa yang menyaksikan mukjizat yang merupakan penghalang itu sendiri telah menjadi penganut yang saleh dari Agama Salia.

Di tengah-tengah itu, seorang anak lelaki sering pergi ke gereja untuk mendengarkan ajaran seorang pendeta.

Dan pendeta itu, meskipun keimanannya tinggi, ia sulit untuk membiasakan dirinya dengan masyarakat, tapi ia unggul dalam menyederhanakan dan menyampaikan kata-kata tuhan kepada orang-orang dari berbagai usia.

Dengan kata lain, karena dia buruk dalam hal formalitas, dia pun dikirim ke daerah terpencil ini, tapi bahkan kemudian, dia berusaha keras untuk mengajarkan kata-kata tuhan kepada bocah itu.

Namun, bocah itu ternyata sangat sulit untuk ditangani, dan si pendeta mengalami kesulitan.

Dikatakan bahwa tuhan telah menciptakan tanah, tapi tanpa roh bumi maka tanah tidak akan mengeras.

Dikatakan bahwa laut pedalaman yang sakral adalah ulah dari tumit tuhan, tapi dikatakan bahwa roh air itu ada.

Pasti itu karena bocah ini bergaul dengan para sesepuh yang percaya pada roh, sehingga sulit baginya untuk menelan ajaran tuhan.

Tapi dengan penuh kesabaran dan ketekunan, dan karena kebaikan murni yang dimiliki imam itu, ia pun dapat menerimanya.

Sebagai tambahan, karena murni rasa haus akan pengetahuan, bocah itu mampu menghafal kitab suci Agama Salia, untuk menjadi sealim ini di dalam wilayah terpencil semacam ini ……. Dan bahkan dia masih sangat muda membuatnya menjadi seorang penganut yang luar biasa, pendeta itu merasakan sukacita yang mendalam karena hal ini.

Tapi seorang anak tetaplah seorang anak, dan anak itu tersesat di dalam hutan yang sebelumnya telah diberitahu untuk tidak pernah memasukinya, pada saat itu seluruh desa sedang mencarinya sementara sang pendeta berdoa untuk keselamatan anak itu.

Pada akhirnya, anak itu ditemukan dengan aman, ayahnya pun memukul kepalanya dan itu menjadi cerita yang lucu, tapi dia mengatakan satu hal.

―――― Tak ada iblis disana ――――

Sejak saat itulah bocah itu berhenti mengunjungi gereja.

Sang pendeta bertanya kepada penduduk desa, mengapa dia berhenti mengunjungi gereja, tapi mereka hanya menggelengkan kepala, dan pada akhirnya dia tidak bisa mendapatkan jawaban, tapi dia bisa mendengar ini dari gosip diantara para ibu-ibu.

『Karena, Tuhan telah berbohong』

Pada akhirnya, tanpa mengetahui arti dari kata-kata itu, hidup sang pendeta berakhir dalam First Lost.

Tinggalkan Pesan