Chapter 3 Part 8 – Laboratorium yang Dipenuhi Dengan Kengerian, Tak Ada Akhir Bagi Penderitaan Yang Diberikan Oleh Sang Pahlawan

Dokter harus membayar fakta bahwa dia memandang rendah orang lain dan memperlakukan mereka seperti hewan percobaan.

[Baiklah, biarkan dokter yang bertanggung jawab itu masuk]

Orang-orang yang muncul sambil menyeret tubuh mereka yang berat itu adalah mayat para Berserker yang berada di lantai pertama.

[Mereka juga memakai jas berwarna putih, itu yang paling pantas kan?]

[Hiiii… ..!]

Meskipun aku berbicara dengannya, dokter hanya berteriak dan tidak menanggapiku. Ayo lanjutkan.

[Baiklah kalau begitu! Sudah waktunya! untuk memulai eksperimen tanpa akhir ~]

Aku memerintahkan para Berserker menggunakan sihirku dan menyuruh mereka menempatkan dokter di atas kursi percobaan.

Pastikan untuk menggunakan tali pengikat untuk mengamankan tangan dan kakimu ke kursi.

[Sarung tangan juga sudah siap. Bagaimana subjeknya?]

[Tidaaaaaaaaaaak, jangan mendekat!]

[Ya, subjeknya cukup sehat untuk dapat berteriak! Ini cukup bisa diterima]

Aku tertawa dan meletakkan tanganku ke bahu dokter.

[Dokter, tergantung hasilnya, kau mungkin bisa hidup lebih lama. Jadi, lakukanlah yang terbaik]

[Hiii… ..berhenti… .. Apa yang kau rencanakan!?]

[Aku sedang berpikir untuk bermain di bidangmu. Semua yang ada di rak ini beracun kan?]

Aku mengeluarkan sebotol racun dan melambaikannya di depan dokter.

Wanita ini membunuh banyak orang tak bersalah atas nama eksperimennya.

Di antara mereka, metode yang membunuh kebanyakan orang tersebut adalah percobaan dengan menggunakan racun.

[Ayo, buka mulutmu —– minumlah dan jangan menumpahkan setetes pun]

[Agah… ..]

Aku membuka tutup stoples dengan ibu jariku.

Aku memaksanya untuk membuka mulutnya dan dia mulai melawan dengan putus asa.

Jadi, aku pun memasukkan botol itu ke dalam mulut dokter.

[Uehh… ..]

Air mata mulai mengalir dari matanya.

Dia mencoba melawan, tapi itu tidak ada gunanya.

[Uh, uhhhh]

Saat melihat dia minum setiap tetesnya, aku pun menjelaskan aturannya.

[Jangan khawatir, racun tidak akan membunuhmu dengan cepat]

[Ahhhhhhhh, tenggorokanku… ..terbakar… ..!]

Rasa sakit yang menyengat mengalir di tenggorokannya, dia tiba-tiba muntah.

Sambil membuat suara keras, cairan berwarna hijau pucat menodai area dadanya.

[Uehhhhhhhhhhhhhhhh… ..! Agah… ..guahhhhhhhhh… ..!]

Ohh, menjijikan. Kurasa itu wajar saja karena aku membuatmu meminum dosis yang mematikan.

Bau yang tidak sedap mulai beredar. Ada semacam bau asam dari muntahan, tapi, ahh, sepertinya kecelakaan besar bahkan terjadi di bawah sana !.

[Dokter, kau bau]

Aku menutupi hidungku dan terus mengulangi bahwa baunya tidak sedap.

Dia gemetar dengan wajah merah padam.

Ekspresi itu memiliki suasana yang sama seperti ingin mati karena rasa malu.

Namun, tubuh dokter terus mengkhianati hatinya.

[Ahh… ..ti-tidak… .. biarkan aku pergi ke kamar mandioo… ..]

[Mustahil. Kau tidak akan berhasil tepat waktu]

[Ahhhhhhh… ..]

Suara putus asa dapat terdengar.

Bau tak sedap itu kembali memenuhi ruangan.

[Uwaa… ..ini mengerikan. Selain berbau tidak sedap, suara yang mengecewakan juga dapat terdengar]

Dokter mengguncang tubuhnya dengan putus asa.

Kursi yang dipegangnya bergoyang.

[Maafkan aku… .. perutku sakit… ..aku akan mati… ..Ahhh… .. berikan aku penawarnya… ..oehhhhhh… ..]

Sambil muntah, dokter mengulurkan tangannya ke arahku.

Pemandangan yang luar biasa. Tentu saja, aku bukanlah seorang iblis yang kejam.

Aku akan membantunya agar dia tidak mati terlalu cepat.

[Aku akan menerapkan sihir padamu agar kau tidak mati begitu saja ~]

[Ahh, ahhh, ahhhhhhhhh!]

Sihir cahaya yang selalu sangat berguna dalam situasi seperti ini. Selama jangka waktu tertentu, tidak peduli seberapa rusaknya suatu organ, ia akan sembuh.

Tapi, sihir ini tidak bisa menghilangkan rasa sakit dan penderitaan.

[Aku akan melakukan sesuatu yang istimewa. Jika mau, aku akan memberikan penawar untuk racun itu]

[…… ..!]

Dia dengan cepat mengangkat wajahnya dengan dipenuhi air mata, ingus dan muntah.

Hei hei. Jangan melihatku dengan mata seperti kau akan diselamatkan seperti itu.

Apa kau tidak memiliki kemampuan untuk belajar?

[Namun, kau akan melakukannya sendiri]

[Eh… ..? Eh?]

[Apa yang kau harapkan? Bahkan jika kau memuntahkan darah karena racun, atau tanganmu gemetar, atau kau tidak dapat melihat. Ayo, tunjukkan bagaimana dokter jenius yang hebat mempersiapkannya]

[A-Aku tidak bisa… ..dalam keadaan ini… ..]

[Kau harus cepat, atau kau tidak akan bisa bergerak lagi]

Aku memerintahkan para zombie untuk melepaskan dokter.

Saat menderita, dokter sepertinya berpikir bahwa jika dia terus membuang-buang waktu maka dia akan benar-benar mati, jadi dia pergi ke meja persiapan dengan cepat.

[Ogehhhhhhhhhhh]

Sambil memuntahkan obat yang dibuatnya, dokter meneteskan air mata.

Ahh, tapi sayang sekali.

[A-Aku tidak akan mati… .. Aku tidak akan matiiiii… ..!]

Itulah tepatnya yang dia pegang.

Dokter yang berlumuran muntahan, saat mengalami kejang, entah bagaimana berhasil menyelesaikan obat penawarnya sementara para Berserker dan aku terus mengawasinya.

[A-Aku berhasi… ..! Aku berhasil… ..!]

Dokter berteriak seolah-olah dia benar-benar merasa lega.

Dan kemudian dia langsung meminum habispenawarnya.

[De-dengan ini, ini kemenanganku… ..!]

Kejang-kejangnya mereda.

Wajahnya yang berubah ungu, mulai kembali normal.

[Luar biasa, dokter. Kau benar-benar jenius]

Novel ini diterjemahkan oleh 4scanlation.com, Mohon tidak mengcopy/memirror hasil terjemahan di web ini tanpa izin

[Ku-kulihat kau telah mengerti… ..! Begitulah! Baik itu pahlawan atau apapun itu, tidak ada yang bisa mengalahkan kecerdasanku!]

Aku memuji dokter. Selamat.

Benar-benar selamat. Kau pasti bahagia karena terlahir pintar.

[Baiklah. Jadi, mari kita mulai dengan ronde kedua]

[Apa…..?]

[Hm? Sudah kubilang, bukan? Ini adalah awal dari eksperimen tanpa akhir]

Apa kau berpikir bahwa aku akan membiarkanmu melarikan diri? Dokter gemetar dan menjatuhkan botol itu ke tangannya.

[Tidak mungkin… ..tapi kau bilang begitu. Jika aku melakukannya dengan benar, aku bisa hidup lebih lama]

[Kau bisa hidup lebih lama, kan? Kau tidak mati karena racun sebelumnya, jadi kau bisa hidup lebih lama. Baiklah, mari kita lanjutkan ~!]

[Ti-Tidak… ..]

Aku mengirim para Berserker untuk menahan dokter.

Secara alami, tidak mungkin wanita yang keracunan dan kelelahan ini bisa melarikan diri.

Ketika aku membuka buku catatan, aku sengaja menjilat ujung pena.

[Aku akan mencatat hasilnya dengan benar. Jadi kita bisa sepenuhnya fokus pada percobaan manusia, Dok]

[Ahhh… .. maafkan aku… ..! Aku akan lakukan apapun! Kumohon! Maafkan aku! Maaf, maaf, maaf, maaf!]

[Memalukan. Tidak peduli seberapa banyak kau meminta maaf, suaramu tidak akan sampai ke orang yang telah mati]

[Ti-Tidak… .. maafkan akuuuuu!]

Teriakannya bergema di dalam laboratorium.

—–Setelah itu, dokter melakukan yang terbaik, hingga ronde 42.

Setelah berkali-kali dilanda keputusasaan, sepertinya tubuhnya berhenti merespons.

[Ogehh… ..uh… ..uhhh… ..ah… ahh… ..tidak… ..Aku tidak mau… ..lag… ..i… ..]

Menggumamkan itu pada akhirnya, dia pun berhenti bergerak.

Ketika ajy berjongkok di depan dokter yang terjatuh, aku meraih tangannya yang lemas, dan memeriksa denyut nadinya dengan isyarat dokter.

[……….]

Tidak ada. Tidak ada reaksi.

[Pukul 17:31, Dokter Rine Beneke, telah mati]

Aku menggumamkan itu setelah melihat mayat itu.

Kupikir dia bisa mencapai ronde 100, tapi tampaknya dia tidak punya nyali.

[Dengan ini, balas dendamku pada dokter sudah berakhir]

Saat aku bangun, aku melepaskan sihir dari para Berserker.

Mayat-mayat itu tenggelam di dalam lautan muntahan dan darah.

Setelah itu, aku meninggalkan lembaga penelitian farmasi nasional, meninggalkan 231 mayat para peneliti, dan mayat ketiga peneliti utama.

[Oh, hujan sudah berhenti]

Saat menatap ke langit, aku dapat menemukan bintang yang terang.

[Hm ~]

Aku menarik napas dalam-dalam saat meregangkan tubuhku.

Aroma malam setelah hujan mirip dengan aroma buah yang matang.

Kupikir aku akan pergi mendapatkan seekor kuda.

Aku ingin mandi di kota di sepanjang jalan.

Tujuanku selanjutnya sudah diputuskan.

Desa Noor, yang membiarkan para prajurit muda itu mati.

Para penduduk desa yang bahkan tidak bisa memberi mereka segelas air.

Apa kalian pikir aku akan memaafkan kalian hanya karena kalian adalah penduduk desa yang lemah? Jangan konyol.

Tidak masalah apakah mereka kuat atau lemah.

Penilaianku akan diberikan secara setara kepada pria, wanita, tua dan muda.

Dewa kematian akan selalu muncul di depan matamu.

Tidak peduli di mana keberadaan orang-orang berdosa itu, aku akan berada di sana—–

Tinggalkan Pesan