Chapter 5 – Pertemuan

Di ruangan yang cukup luas duduk seorang pria tua yang dapat di sebut sebagai guild master. Menghela nafas ia membuka beberapa tumpukan buku yang harus ia isi. Ruangan tempatnya bekerja berukuran 10 meter persegi, tentunya itu dapat dikatakan sangat luas sebagai ruangan yang hanya di isi oleh seorang pria tua, rak buku, meja kerja dan kursi tamu.

 

“Lagi-lagi Marina memberi tugas yang sangat banyak…” menyipitkan mata melihat tumpukan buku yang ada di depannya.

 

Mehela nafas pria tua itu tampak ingin mengabaikan tugas itu namun itu adalah pekerjaan yang harus ia kerjakan. Membuat wajah lesu pria tua itu mulai mengisi buku-buku yang ada di depannya.

 

Tanpa terasa matahari telah berada di tengah yang menandakan waktunya istirahat bagi seluruh pegawai guild dan waktu untuk makan siang. Guil master menutup buku yang ia kerjakan dan keluar dari ruangan kerja.

 

“Terimakasih atas kerja kerasnya tuan Asley…” menundukkan kepalanya ia mengatakan itu.

 

Menengok kan kepala ke sisi kanan terlihat seorang wanita muda mengenakan pakaian pelayan.

 

“Ternyata Alma ya… “ memikirkan suatu dan memutuskan suatu hal “Dada mu bertambah besar lagi Alma pasti rasanya empuk.. hahaha kau benar-benar canti…”

 

Buukk

Baca SelengkapnyaChapter 5 – Pertemuan

Chapter 4 – Serbuan

Saat membuka pintu, bau menyengat dari keringat para petualang dapat tercium dan beberapa aroma beer yang sangat menyengat langsung menusuk hidung.

 

Para petualang yang telah menyelesaikan tugas biasanya akan memabukkan diri untuk menghilangkan stress yang di alami ketika melaksanakan tugas.

 

“Dari dulu aku tidak menyukai bau ini” sembari menutup hidung.

 

Seperti biasa kondisi guild masih ramai walau hari ini adalah hari minggu, biasanya para petualang mengambil libur untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya atau dengan orang-orang terdekatnya.

 

Mengabaikan kondisi sekitar, aku menuju loket penukaran.

 

“Permisi….” Menoleh kedalam loket namun tidak ada orang yang berjaga.

 

Buukkk

 

Suara benda yang di jatuh dapat terdengar dari dalam loket, akhirnya ada orang yang datang.

Baca SelengkapnyaChapter 4 – Serbuan

Chapter 3 – Permulaan

Hufff… menghela nafas sembari melihat keluar jendela.

 

“Rasanya 6 tahun sudah berlalu tanpa terasa…”

 

Tanpa alasan yang jelas diriku di reinkarnasi ke dunia lain, meski di sebut sebagai reinkarnasi itu bukahlah hal yang tepat ketika ingatan masa lalu ku masih jelas dan diriku masih belum yakin telah mengalami kematian saat itu, tapi meski begitu aku di lahirkan kembali.

 

Huff….

 

Aku kembali mengela nafas sembari memikirkan tentang alasan kenapa aku di reinkarnasi, maksudku bukankah biasanya jika seseorang di reinkarnasi ke dunia lain dan masih memiliki ingatan masa lalunya tentu ia mendapat sebuah tugas dari dewa kan?, Tapi aku tidak mendapat tugas apapun, apa artinya ini kesalahan dewa? tapi yang lebih menyebalkan adalah tidak adanya tutorial.

 

Tok tok tok

 

Suara ketukan pintu dapat terdengar, segera sadar dari pemikiran yang tidak berkesudahan aku memutuskan segera menuju arah pintu.

 

“Baik tunggu sebentar…”

Baca SelengkapnyaChapter 3 – Permulaan

Chapter 2 – Pengalaman pertama

Akhirnya aku menjadi seorang ibu, tapi perasaan aneh apa ini?mungkinkah ini yang di sebut sebuah kebahagian? tanpa sadar air mata keluar. Ke-kenapa? air mata ku mengalir dengan deras…

 

“Selamat atas kelahirannya nyonya Cristina..”

 

“Hmm, terimakasih bantuannya, apa menurut mu ia manis?”

 

“Ya aku pikir juga begitu…” wanita yang telah membantu persalinan ku tersenyum.“jadi apa anda telah memberi nama kepada anak ini?”

 

“Belum…” jawab ku dengan suara rendah.“sampaikan kepada tuan Ramirez apa ia ingin memberi nama anak ini, karena bagaimanapun ia masihlah ayah dari bayi ini”

 

“Kalau begitu saya akan pergi keluar”

Baca SelengkapnyaChapter 2 – Pengalaman pertama

Chapter 1 – Sebuah Awalan

Di suatu malam yang gelap hujan lebat turun bersamaan dengan petir yang terdengar. Namun bangunan yang kokoh melindungi orang-orang dari hujan lebat malam ini, sebuah rungan luas yang berisi dekorasi dan beberapa ornamen mewah tersusun di ruangan.

 

Di tengah ruangan terdapat seorang pria yang tengah duduk di singgah sana dengan wajah tenang dan beberapa ajudannya yang menemani nya.

 

“Bukankah malam ini cuacanya sedikit buruk Tempest?”

 

“Aku setuju dengan anda yang mulia”

 

Di tengah keheningan, terdengar suara dari zirah armor yang bertabrakan membuat suara dentuman logam dan setelahnya di ikuti oleh perdebatan.

 

“Ada apa Tempest? apa ada seorang utusan yang di jadwalkan datang?”

 

“Maaf yang mulia saya yakin bukan itu karena kerajaan beast masih belum memberikan keputusan untuk kerjasama dengan kerajaanAskatik”

Baca SelengkapnyaChapter 1 – Sebuah Awalan

Prolog

Dimalam yang gelap jalanan di hiasi oleh cahaya redup dari lampu yang mulai menyala, udara mulai terasa dingin setelah turunnya matahari. Tanpa sadar tatapan ku mengarah ke atas.

 

“Jadi orang-orang saat ini mulai membicarakan tentang kebebasan ya? kenapa kalian repot-repot melakukan itu jika manusia masih meminta peperangan?” tanpa sadar aku mengatakan itu.

 

Terkadang dalam hati kecil ku selalu berharap bahwa dunia dimana yang lemah tidak ditindas dan yang kuat tidak menindas apa bisa benar-benar terwujud?. Diriku yang naif selalu berharap dunia seperti itu dapat di wujudkan walau aku tahu bahwa selama manusia memiliki ‘kerakusan’ yang masih tersisa di dalam hatinya maka ke inginnan itu hanya sebatas angan.

 

“Apa kau akan pulang Scott?” sebuah suara dapat terdengar dari belakang.

 

“Begitulah Amagi, aku akan beristirahat”

Baca SelengkapnyaProlog