Akuyaku Tensei Dakedo Doushite Kou Natta

Chapter 22 – Lingkaran Sosial Earl Terejia

Sinar matahari menyinari di akhir musim semi, pada bermacam-macam manisan yang tertata rapi di atas meja taman, tapi aku hanya bisa mendengarkan wanita bangsawan di depanku sambil sesekali menanggapinya. Duduk di seberangku sambil mengobrol selama satu jam terakhir adalah Senior Viscountess Daniela Felhi-Berendorf, bibi dari  Senior Baron Felhi, seorang menteri keuangan istana, dan dia adalah …

Chapter 22 – Lingkaran Sosial Earl Terejia Selengkapnya »

Chapter 20 – Sore Hari yang Dilanda Rasa Lelah

Semua mata tiba-tiba terfokus padaku. Jantungku berdetak sangat cepat sampai-sampai itu terasa menyakitkan. “……Apa ini?” Suara pertama yang berbicara adalah dari Marquis Rittergau. Dia tidak menyembunyikan nada suaranya yang keras. Sikapnya tampak sangat mengancam, tapi aku harus mengatasi ketakutanku sendiri. “Jika perlu, maka wilayah Kaldia-ku dapat menerima para pengungsi, seperti yang baru saja aku katakan.” …

Chapter 20 – Sore Hari yang Dilanda Rasa Lelah Selengkapnya »

Chapter 19 – Rumah Para Penguasa Layaknya Lautan

Beberapa lampu gantung yang terbuat dari emas yang sangat indah menjuntai dari langit-langit aula besar, meskipun saat ini sedang ramai, melihat kemewahan mereka, jika ada lebih sedikit orang di sini, tempat ini akan menjadi tempat yang bagus untuk menari. Rumah para penguasa terletak di salah satu istana kerajaan, Istana Arktoria, dan mulutku terbuka lebar saat …

Chapter 19 – Rumah Para Penguasa Layaknya Lautan Selengkapnya »

Chapter 17 – Elise Cherstoka

Karena seorang anak yatim dari desa Cyril di wilayah Kaldia telah melempar batu ke Viscountess Kaldia, dan menyebabkan dia jatuh dari kudanya, beberapa penduduk desa pun dihukum dan harus bertanggung jawab. Anak yang merupakan pelakunya sebenarnya diikat dalam sebuah karung goni dan dilemparkan ke sungai, sementara mereka yang menyuruh anak itu untuk melakukannya, orang-orang yang …

Chapter 17 – Elise Cherstoka Selengkapnya »

Chapter 16 – Apa yang Aku Pelajari Setelah Debut Sosialku

Ini hari ketiga dan terakhir dari perayaan ulang tahunku. Di aula yang biasanya kosong, dan di taman itu ada beberapa orang yang tidak kukenal. Mereka adalah bangsawan dari wilayah tetangga, dan berbagai bangsawan yang terhubung dengan Earl Terejia dalam beberapa cara. Meskipun aku tahu nama mereka, ini pertama kalinya aku bertemu mereka. Aku membunuh keluargaku …

Chapter 16 – Apa yang Aku Pelajari Setelah Debut Sosialku Selengkapnya »

Chapter 15 – Bertingkah Seperti Seorang Anak Kecil

Ketika upacara selesai dan aku diizinkan untuk pergi, aku langsung jatuh ke lengan Kamil. Apa ini, kata earl dalam kalimat yang belum lengkap saat dia bertemu mata denganku. Ketika aku melihat bayanganku di matanya yang sepi itu, aku memaksakan suara keluar dari tenggorokanku. “Karena aku masih kecil, upacara ini benar-benar membuatku merasa lelah. Aku akan …

Chapter 15 – Bertingkah Seperti Seorang Anak Kecil Selengkapnya »

Chapter 14 – Timbangan Karma

Pada hari kedua perayaan ulang tahunku, seorang pendeta dari gereja akan melakukan upacara untuk menerima berkat. Segera setelah kereta kuda mereka tiba di pagi hari, sama seperti kemarin, rencana hari ini adalah keluar rumah. “Ini …… Faris-dono ……” Begitu dia melihat pendeta itu turun dari kereta kuda, Earl Terejia mengangkat suaranya dengan nada ragu. Faris? …

Chapter 14 – Timbangan Karma Selengkapnya »

Chapter 13 – Mode Hidup Keras

“Kau mungkin belum pernah berpikir tentang kemungkinan akan terbunuh, kan?” Aku menjambak rambut anak itu dan menempelkannya ke tanah seperti yang pernah kulakukan pada serangga. Setelah menarik rambutnya dan memperlihatkan lehernya, aku menekankan ujung mata pisau ke arahnya. Dia menghela nafas. Meski begitu ia tetap melotot dengan tegas, sungguh berani untuk seorang anak seusia ini. …

Chapter 13 – Mode Hidup Keras Selengkapnya »

Chapter 12 – Kebencian di Mata Mereka

“- Eliza-sama !!” Seolah-olah aku baru saja muncul dari bawah air, panca inderaku tiba-tiba langsung menjadi terasa jelas. Hal pertama yang aku lihat adalah wajah pucat Kamil, lalu langit biru di belakangnya. Pada saat yang sama, aku mendengar lusinan orang membuat kegaduhan sehingga aku tidak bisa mengerti apa pun yang dikatakannya. Kepalaku terasa sakit sekali. …

Chapter 12 – Kebencian di Mata Mereka Selengkapnya »

Chapter 11 – Perayaan Ulang Tahun Pertamaku

Akhirnya tiba saatnya untuk merayakan ulang tahunku, tepat ketika kelelahanku telah mencapai puncaknya untuk mempersiapkannya di setiap hari-hariku. Mulai dari hari ini, selama tiga hari ke depan akan sangat sibuk sampai akhirnya aku bisa beristirahat. “…… Berhentilah terus-menerus tertawa.” Di antara suasana hati yang sangat lelah, ada si bajingan yang tertawa riang. Itu Kamil. Dia …

Chapter 11 – Perayaan Ulang Tahun Pertamaku Selengkapnya »