Prolog

Dimalam yang gelap jalanan di hiasi oleh cahaya redup dari lampu yang mulai menyala, udara mulai terasa dingin setelah turunnya matahari. Tanpa sadar tatapan ku mengarah ke atas.

 

“Jadi orang-orang saat ini mulai membicarakan tentang kebebasan ya? kenapa kalian repot-repot melakukan itu jika manusia masih meminta peperangan?” tanpa sadar aku mengatakan itu.

 

Terkadang dalam hati kecil ku selalu berharap bahwa dunia dimana yang lemah tidak ditindas dan yang kuat tidak menindas apa bisa benar-benar terwujud?. Diriku yang naif selalu berharap dunia seperti itu dapat di wujudkan walau aku tahu bahwa selama manusia memiliki ‘kerakusan’ yang masih tersisa di dalam hatinya maka ke inginnan itu hanya sebatas angan.

 

“Apa kau akan pulang Scott?” sebuah suara dapat terdengar dari belakang.

 

“Begitulah Amagi, aku akan beristirahat”

“Tapi bukannya arah rumah mu kesini?, lalu kenapa kesana?”

 

“Ingin merasakan sedikit udara malam”

 

“Kalau begitu hati-hatilah di jalan”

 

Senior kerja ku terlihat bersemangat mungkin karena pada hari ini dia punya acara kencan dengan pacarnya, yah wajar saja karena sebentar lagi adalah natal. Kalau begitu beberapa pasangan akan berlalu lalang karena itu sebaiknya aku mengambil jalan memutar.

 

Membelokkan tubuh ke arah kanan dan mulai berjalan melewati jalan yang terlihat sepi. Meski terlihat sepi ini benar-benar malam yang di penuhi oleh rasi bintang yang indah.

 

‘Aaaaa!!!’

 

Sebuah teriakan dari seorang gadis dapat terdengar dengan jelas memecah keheningan jalanan. Mungkin itu adalah pertengkaran keluarga dimana si anak meminta sesuatu namun tidak dapat ditututi.

 

‘LEPASKAN AKU!!!’

 

Suara selanjutnya mulai membuat ragu perlahan aku mendekat untuk memastikan apa yang terjadi namun…

 

‘Sebaiknya kau diam gadis kecil’

 

Bukan kah itu adalah penculikan? lalu apa yang harus kulakukan?. Insting ku mengatakan bahwa ‘kau harus pergi dan hindari masalah’. Aku setuju dengan itu namun sebuah kata dari kakak di panti asuhan mengatakan ‘tolong lah orang yang membutuh kan mu agar kelak kau tidak menyesalinya’.

 

“Hey kak apa kita hanya akan mencuri barangnya saja?”

 

“Tentu saja tidak bodoh! lihat tubuhnya, sangat sayang jika tidak kita manfaatkan” sebuah tawa jahat mulai terdengar.

 

Tunggu? bukankah itu adalah senior di SMA ku?. Mengetahui itu mungkin aku dapat melakukan negosiasi bukan?.

 

“Hai para kakak senior apa kabar?”

 

“Perrgilah jangan ganggu kami atau kau akan merasakan akibatnya”

 

“Kalau begitu bagaimana kalau kalian juga melepaskan gadis itu juga?”

 

“Cih…”

 

Sebuah penolakan dapat dirasakan, mungkin mereka adalah senior yang lemah tapi tetap saja jika 2 lawan 1 bukan hal mudah bagi ku untuk menang.

 

Aku hanya berdiam dan berpikir namun tiba-tiba sebuah kepalan datang dengan cepat dan tubuh ku merespon untuk menghindar.

 

“Hebat juga kau tapi jika kau pergi saat ini kau tidak akan terluka lho…”

 

“Aku pikir itu juga berlaku untuk senior jika tidak melepaskan gadis itu…”

 

“Adik lepaskan gadis itu” dengan ragu ia mengeluarkan perintah itu.

 

“T-tapi bukan kah kita akan rugi?”

 

“Jika kau melawan bocah ini 1 lawan 1 maka kita tidak dapat menang BODOH!”

 

Menuruti perintah kakaknya dia melepaskan perempuan itu dan perempuan itu mulai sedikit menjauh.

 

“Hey nona? Sebaiknya kau pergi sekarang…”

 

“T-tapi bagaimana dengan mu?” sebuah keraguan muncul di raut wajahnya.

 

“Jika kau disini maka hanya akan jadi beban, jika kau ingin membantu ku berlari lah ke kantor polisi”

 

Gadis yang telihat ragu memutuskan tekadnya dan belari kencang menuju pos polisi.

 

“Dasar bodoh!!!” dengan itu mereka mulai melakukan serangan.

 

Sebuah gerakan menyayat pisau mendekat namun itu masih terlihat dan dapat dihindari meski begitu orang lainnya menunggu di belakang untuk menangkap ku. Pilihannya hanya ada 2 terkena sayatan pisau atau tertangkap dan tertusuk.

 

“Dasar bodoh!”

 

Sebuah sayatan mengenai tubuh ku namun itu lebih baik dari pada tertangkap.

 

“HAHAHAHAHA” sebuah suara tawa keluar dari keduanya.

 

Apa yang terjadi? memikirkan itu tubuh ku mulai melemah dan pandangan sedikit mengabur.

 

“Apa kau telah menyadarinya?” sebuah suara kemenangan mulai terlihat dari raut wajah mereka.

 

“Hahaha begitukah? Tapi kalian sudah kalah lho dengan membiarkan gadis itu lari”

 

Senyum kecut terlihat di wajah mereka namun mereka tetap merasa tenang dengan telah membuah ku lumpuh tanpa memikirkan semakin lama disini kemungkinan akan tertangkap polisi semakin besar.

 

“MATILAH KAU!”

 

Sebuah tendangan mengarah ke perut ku dan saat itu sebuah nyeri yang sangat hebat menyerang tubuh dan di lanjut tendangan di muka yang membuat ku mati rasa.

 

“MAKAN INI!” dengan amarah nya juga si adik menginjak punggung ku.

 

Tanpa terasa waktu berlalu dan tubuh ku mulai benar-benar mati rasa tidak dapat membedakan di bagian mana tubuh ku sakit dan pikiran ku mulai kosong.

 

“KALIAN HENTIKAN ITU!!!”

Sebuah teriakan dapat terdengar dengan jelas dan para senior berhenti sejenak untuk menoleh dan menyadari bahwa itu adalah polisi yang hanya datang sendiri dengan gadis yang ia culik tadi. Tanpa pikir panjang mereka menyerang polisi namun tiba-tiba…

 

Dorrr

 

Sebuah letupan senjata terdengar dan mereka berhasil di lumpukan, meski mataku sedikit mengabur namun itu dapat terasa bahwa saat ini keadaan mulai terkendali dan beberapa polisi lainnya mulai berdatangan.

 

“Kak bertahan lah!!!” sebuah suara khawatir dapat terdengar.

 

“Kau selamat ya? kalau begitu aku dapat tenang”

 

“Kakak bertahan lah! kau akan selamat!” selanjutnya pendengaran ku juga mulai menghilang.

 

“Kalau begitu aku serahkan tubuh ku kepada mu dan buat aku selamat hehehe”

 

Dengan itu mataku menutup dan aku tidak dapat mendengar atau merasakan apapun namun tiba-tiba sensasi permukaan yangempuk mulai terasa dan tempat ini terasa nyaman yang kuyakini ini adalah kasur.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *