Chapter 4 – Serbuan

Saat membuka pintu, bau menyengat dari keringat para petualang dapat tercium dan beberapa aroma beer yang sangat menyengat langsung menusuk hidung.

 

Para petualang yang telah menyelesaikan tugas biasanya akan memabukkan diri untuk menghilangkan stress yang di alami ketika melaksanakan tugas.

 

“Dari dulu aku tidak menyukai bau ini” sembari menutup hidung.

 

Seperti biasa kondisi guild masih ramai walau hari ini adalah hari minggu, biasanya para petualang mengambil libur untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya atau dengan orang-orang terdekatnya.

 

Mengabaikan kondisi sekitar, aku menuju loket penukaran.

 

“Permisi….” Menoleh kedalam loket namun tidak ada orang yang berjaga.

 

Buukkk

 

Suara benda yang di jatuh dapat terdengar dari dalam loket, akhirnya ada orang yang datang.

“Maaf menunggu, ada beberapa hal yang harus saya ur…” menghentikan suaranya dan memastikan orang yang telah menunggunya. “Ada apa William?”

 

Oh nampaknya akan lebih cepat dari dugaanku.

 

“Seperti biasa bibi, aku datang kemari untuk melaporkan hasil buruan”

 

“Kalau begitu silahkan taruh di meja loket dan mohon maaf, apa kau bisa menunggu sebentar?”

 

Menganggukan kepalaku sebagai bentuk pesetujuan, aku menaruh kantung yang berisi bukti buruan di atas meja. Nampaknya akan lebih lama… tidak biasanya bibi Marina sesibuk ini.

 

Tanpa menunggu waktu yang lama, ternyata pekerjaannya telah selesai dan bibi Marina mulai melihat isi kantungyang kubawa.

 

“Baiklah William, bisa tolong tunjukkan kartumu?”

 

Dengan itu, aku memberikan kartu itu sebagai bukti untuk penyelesaian quest.

 

“Baiklah sekarang sudah beres dan ini bayarannya, totalnya 10 koin perak” Saat ia memberikan koin perak, aku segera menadahkan tanganku. Saat ingin pergi, aku teringat sesuatu.

 

“Bibi boleh aku pinjam senjata di ruang latihan untuk berburu?”

 

Biasanya hal ini tidak diperbolehkan tapi untukku itu adalah pengecualian, mungkin karena aku sudah akrab dengan guild.

 

“Boleh, tapi seperti biasa, jika kau menjual hasilnya disini akan di kenakan pajak 10% sebagai biaya perawatan”

 

Aku mengangguk dan segera ke ruang latihan untuk mengambilsenjata. Setelah selesai, aku keluar dari guild namun aku bertemu dengan paman Astaroth.

 

“Yo… ingin pergi?”

 

“Benar sekali, apa paman baru saja pulang dari bertugas?”

“Ya benar sekali, aku baru pulang dari ibukota”

 

Saat mendengar kata ibukota, aku benar-benar penasaran seperti apa itu sebenarnya?.

 

“Jika kau ingin pergi ke hutan berhati-hatilah, jumlah monster semakin meningkat akhir-akhir ini”

 

Ini sudah ketiga kalinya aku mendengaritu, mungkin petualangan kali ini akan benar-benar berbahaya jika aku masuk terlalu dalam.

 

“Tangkap ini” ia melemparkan sebuah benda yang di balut dengan kain.

 

“Bukankah ini milik paman dan juga…?”

 

“Pakailah, lagi pula itu adalah hadiah yang kudapat ketika tengah berburu, kau tenang saja… jika terjadi sesuatu pada benda itu,aku tidak terlalu memperasalahkannya”

 

Setelah mengatakan itu, paman Astaroth pergi, aku pun segera pergi menuju hutan dan sampai di depan hutan magna. Hutan itu terlihat lebat seperti biasanya sampai-sampai aku tidak percaya ini masih di luar hutan.

 

Saat memasuki hutan, aku mulai meningkatkan kewaspadaanku, berjalan beberapa menit aku menemukan sebuah mangsa yaitu seekor jumper rabbit. Perlahan dan perlahan aku mendekatinya dan mengeluarkan pisau yang kumiliki, saat telah berada pada jarak lempar, aku pun bersiap untuk melempar pisau.

 

“AH sial kelinci itu kabur!”

 

Aku tidak percaya padahal aku sudah sangat hati-hati, tidak dapat membiarkan mangsa ku lolos aku mengejarnya terus lebih dalam memasuki hutan. Kelinci yang tadi ku kejar tiba-tiba telah terpotong menjadi dua di depan mata ku.

 

Menelan ludah aku mencoba mencari dari mana arah serangan itu dan melihat seekor claw bear sedang berburu. Bersiap untuk mundur namun aku terlalu ceroboh dan menginjak tumpukan kayu kering.

 

Kreekk

 

Claw bear melihat ku mengaum seperti mengatakan ‘INI ADALAH DAERAH KE KUASAAN KU SEKARANG KAU HARUS MATI!’ menyadari itu aku sudah tidak dapat menghindar dengan mudah karena claw bear memiliki kecepatan yang baik.

 

Perlahan mendekat aku mengeluarkan pisau yang kumiliki dan berada di posisi siap bertempur. Tanpa menunggu aba-aba siap dari ku claw bear mulai mengarahkan cakarnya pada ku.

 

“Gawat ini terlalu cepat untuk ku!”

 

Menyadari itu walau sudah berusaha menghindar serangannya masih mengenai ku dan menyayat tangan kiri ku. Mengeluarkan darah aku berusaha mengurangi pendarahannya dengan menekan tempat luka ku dan berharap ini segera mengering, nafas ku mulai tidak teratur mungkin ini adalah kali pertama aku merasakan pertarungan yang seperti ini.

 

Claw bear yang berhasil menyerang ku mengaum seperti memberi tanda bahwa ‘kematian mu telah tiba’ gawat ini sangat gawat!. Pikiran ku mulai kacau karena rasa sakit ini, berusaha tenang aku berusaha mencari petualang yang ada di sekitar.

 

“Apa ada seseorang di sekitar? Aku minta tolong!!!” mengeluarkan semua suara yang dimiliki dengan menahan rasa sakit.

 

Tapi tidak ada seorang pun, bersiap menyerang lagi kali ini serangan claw bear dari atas. Berusaha bergerak lebih cepat namun karena kecepatannya di luar kemampuan ku cakarnya masih mengenai tubuh ku dan sekali lagi darah keluar dari tubuh ku.

 

Apa yang harus kulakukan?, menyadari itu aku melemparkan pisau yang kubawa dan pisau itu mengenai matanya semakin marah ia berusaha menyerang namun kemampuan melihatnya semakin berkurang.

 

Ini kesempatan ku! Ketika aku berlari tubuh ku di hantam oleh sesuatu dan membuat ku terpental. Ternyata itu adalah impact horse. Tidak biasanya kedua hewan teritori ini bertemu dalam satu area, tidak dapat bergerak kedua monster itu saling bertatap muka.

 

Menyadari ada makhluk lain yang  masuk teritorinya mereka mulai bertarung. Tubuh ku masih tidak dapat di gerakkan dengan leluasa. Sial apa aku akan mati disini? Saat memikirkan itu aku teringat konsep sihir penyembuh. Berusaha fokus aku merapalkan mantra penyembuh, ‘Heal’ namun gagal, FOKUS! FOKUS! Setalah gagal beberapa kali sihir itu akhirnya berhasil dan ini adalah pertama kalinya aku berhasil mengaktifkan sihir lain selain penguat tubuh.

 

Luka-luka yang terbuka mulai tertutup sedikit, karena belum sepenuhnya belajar penguasaan mana tubuh ku sedikit lemas.

 

“Meski seperti ini tubuh ku kini dapat di gerakkan”

 

‘Burst’ tubuh ku mulai berakselerasi akhirnya aku dapat keluar dan saat berlari aku melihat kumpulan goblin muncul. Mengabaikan itu aku berhasil keluar hutan dengan tubuh penuh luka.

 

***

 

“Dengan ini yang mulia akan senang” terlihat senyum jahat yang tampak di wajahnya.

 

Seorang pria tengah menikmati waktu luangnya dengan santai meminum teh sembari bermain catur dengan dirinya sendiri.

 

“Apa yang kau lakukan Mavisto? Dengan membiarkan bocah itu kabur..”

 

Sebuah suara muncul dari sisi ruangan yang gelap, Mavisto yang tengah menikmati waktu luangnya mendecakkan lidah.

 

“Untuk apa kita membuang tenaga, KAU LIHAT RENCANA INI SUDAH 80% SELESAI!!!” nada perlahan semakin naik.

 

“Kalau begitu aku pergi, tapi perlu ku ingatkan… ‘jangan lengah’” mengatakan jawaban singkat ia pergi.

 

Mavisto yang kehilangan ketenangan kembali menenangkan dirinya dan menyeruput teh yang berada di mejanya. Melupakan percakapan yang membuatnya turun mood nya ia kembali memainkan caturnya.

 

“Hal ini akan membuatnya senang, dengan ini aku melakukan skak pertama…”

 

Mavisto yang tengah bermain mengalihkan pandangannya pada bola yang memiliki fungsi mengawasi tempat yang telah di atur. Membuka matanya lebih lebar ia mendapati anak yang ia biarkan lolos telah keluar dari hutan dalam kondisi yang sangat parah.

 

Mengetahui hal itu ia tersenyum.

 

“Sungguh menarik, seorang bocah dapat melarikan diri dari monster kelas D cukup menarik, kalau begitu posisi raja belum terjepit ya?” Mengatakan itu ia memindahkan caturnya.

 

“Tapi aku melakukan skak lagi lho…”

 

Mengatakan hal itu Mavisto pergi dari ruangan dan membiarkan permainan catur berakhir dalam keadaan tidak menentu.

Tinggalkan Pesan