Chapter 3 – Permulaan

Hufff… menghela nafas sembari melihat keluar jendela.

 

“Rasanya 6 tahun sudah berlalu tanpa terasa…”

 

Tanpa alasan yang jelas diriku di reinkarnasi ke dunia lain, meski di sebut sebagai reinkarnasi itu bukahlah hal yang tepat ketika ingatan masa lalu ku masih jelas dan diriku masih belum yakin telah mengalami kematian saat itu, tapi meski begitu aku di lahirkan kembali.

 

Huff….

 

Aku kembali mengela nafas sembari memikirkan tentang alasan kenapa aku di reinkarnasi, maksudku bukankah biasanya jika seseorang di reinkarnasi ke dunia lain dan masih memiliki ingatan masa lalunya tentu ia mendapat sebuah tugas dari dewa kan?, Tapi aku tidak mendapat tugas apapun, apa artinya ini kesalahan dewa? tapi yang lebih menyebalkan adalah tidak adanya tutorial.

 

Tok tok tok

 

Suara ketukan pintu dapat terdengar, segera sadar dari pemikiran yang tidak berkesudahan aku memutuskan segera menuju arah pintu.

 

“Baik tunggu sebentar…”

 

Ketika membuka pintu ternyata yang datang adalah ibu dia pulang setelah dua hari berburu di hutan.

 

“Apa ibu lelah? Kalau begitu silahkan masuk dan beristirahat…”

 

“Ibu hanya mengantarkan makanan yang tadi di beli, cepat makan…” menyodorkan bungkusan ibu pergi lagi.

 

Ibu ku bernama Cristina dia merupakan seorang demi human dari ras iblis.

 

“Kalau begitu biar aku saja…” dengan sigap berlari menyusul ibu.

 

“Sebaiknya kau bermain dan cari teman yang sebaya dengan mu..”

 

Lagi-lagi alasan seperti itu? tidak kah kau tahu di rumah sangat membosankan.

 

“Tapi Casey sedang sekolah dan aku tidak punya teman yang mau bermain dengan ku…”

 

Setelah mendengar itu entah kenapa ibu menjadi diam untuk sesaat.

 

“Baiklah ini… ibu akan makan dan tidur kalau begitu…” memberikan kantung yang berisi bukti buruan ia kembali ke rumah.

 

“Baiklah sampai jumpa….”

 

Setelah mendapat persetujuan aku berlari dan setelah beberapa langkah ibu memanggil ku.

 

“Ada apa ibu?”

 

“Apa kau akan pulang setelah melapor di guild?”

 

“Aku hendak pergi ke kakek Jordy”

 

“Kalau begitu hati-hati ya dan ingat jika kau bermain di hutan jangan terlalu dalam serta jika kau merasakan ada yang aneh segera laporkan ke guild, akhir-akhir ini monster tiba-tiba meningkat” mengatakan itu sambil memikirkan sesuatu.

 

“Baik ibu aku akan berhati-hati”

 

Setelah itu aku memulai perjalanan ke pusat kota dimana guild petualang berada untuk melaporkan hasil buruan.

 

Di dunia ini ada cukup banyak guild jika ku hitung ada 4, guild petualang, guild penyihir, guild pedagang dan guild pengrajin. Jika sudah mencapai umur 12 tahun kau di perbolehkan mendaftar di salah satu guild,  tapi yang harus ditahui adalah kau tidak bisa mendaftar lebih dari satu guild maksudnya jika kau sudah masuk ke guild petualang kau tidak di perkenankan ikut ke guild lain, jika ingin maka kau harus berhenti dan melakukan beberapa prosedur rumit lainnya untuk keluar dari guild dan berpindah guild.

 

Tanpa terasa pemukinan mulai terlihat, aku akhirnya menapaki jalanan beraspal batu, melihat dari jauh alun-alun terlihat lebih ramai dari biasanya. Memfokuskan mata aku melihat sesosok perempuan berambut pirang dengan beberapa pengawal yang tengah menyusuri kota.

 

Aku yakin itu adalah Iris Carnel anak satu-satunya dari count Ramirez Carnel yang mengatur kota ini. kalau begitu aku harus mengambil jalan memutar ya? Tanpa sadar mata ku dan Nona Iris saling menatap. Meski begitu aku bukanlah seorang lelaki yang akan terlalu percaya diri bahwa itu adalah tatapan suka.

 

Tidak lama setelahnya mata kami kembali saling mengabaikan, mungkin karena tanduk ku yang terlihat aneh, tentunya tanduk ku akan terlihat aneh karena aku merupakan setengah iblis. Di dunia ini makhluk setengah seperti ku sangat jarang karena kebanyakan mati di usia tiga tahun.

 

Mengabaikan hal tadi aku kembali berjalan.

 

“Hai dasar iblis jahat! Pergi dari kota kami!”

 

Suara seorang anak dengan kumpulan kecil nya dapat terdengar.

 

“Maksud mu aku?” sambl menunjuk diri.

 

Aku akan berpura-pura tidak mengetahui maksud mereka. Mengetahui itu nampaknya seorang anak yang terlihat lebih besar terlihat marah, mungkin ini yang di sebut emosi anak yang tidak stabil?.

 

“Tentu saja dasar makhluk jahat! kau telah membunuh party pahlawan!”

 

Tunggu? apa maksudmu legenda pahlawan yang mengalahkan raja iblis? bukankah salah satu party pahlawan juga ada seorang dari ras iblis?.

 

“A-apa? bukankah salah seorang dari party pahlawan juga ada yang dari ras iblis?” berpura-pura polos tindakan ku malah membuat gerombolan anak kecil itu semakin marah.

 

“Tentu saja iblis dari ras iblis adalah hal hal yang berbeda dengan setengah seperti mu! tuan Astolfo adalah iblis yang baik dan SATAN adalah setengah iblis jahat! kau juga setengah maka kau juga jahat!”

 

Logika macam apa itu? tapi jika aku menimpalinya maka hal ini akan panjang. Mengabaikan perkataan mereka aku mulai berjalan kembali dan membelakangi mereka. Meski sudah cukup jauh suara cemoohan mereka masih terdengar dengan jelas dan tentu saja aku mengabaikannya.

 

“Ibu mu pelacur!!!” dengan suara yang cukup lantang pemimpin dari para bocah itu mengatakannya.

 

Tanpa sadar tubuh ku membalik seolah tidak dapat menerima perkataan mereka, meski berniat mengabaikannya entah kenapa hati ku terasa sakit ketika ada orang lain mengatakan sesuatu yang buruk ke pada ibu ku.

 

“Lihat dia berbalik, dia mengakuinya” dengan tampang yang percaya diri ia tertawa.

 

“….” aku bingung harus merespon seperti apa.

 

“Ia juga tidak punya ayah jadi ibu nya pastilah seorang pelacur” seorang anak di belakang pemimpin menambahkan cemoohnya.

 

Saat terdiam seorang anak lainnya melempari ku dengan batu, aku bisa menghindarinya tapi itu akan membuat ini lebih lama. Setelah berhasil mengenai ku anak-anak itu berlari pergi seolah menghindari sesuatu.

 

“Hey jangan lari!”

 

Suara seorang wanita yang terlihat marah terdengar dari sisi ku. Menoleh dan ternyata yang muncul adalah suster Angelica teman ibu yang kini telah naik jabatan menjadi suster kepala di kuil.

 

“Lihat William kau terlibat masalah lagi” dengan mata nya yang melotot ke arah ku.

 

“Aku hanya tidak ingin urusan ini lebih panjang bibi…” dengan senyum masam aku membalasnya.

 

“Kening mu ke luar darah, cepat kemari!”

 

Mengikuti arahannnya bibi Angelica mengeluarkan mantra penyembuh dan seketika luka yang berada di kening ku berhenti. Jika ku pikir sihir ternyata sangat hebat tapi sayangnya sihir ku berwarna putih dimana itu tidak dapat melakukan banyak hal.

 

Huff

 

“Kenapa William?”

 

“Tidak apa-apa bibi…”

 

“Kalau begitu aku pergi dulu ada hal yang begitu mendesak saat ini maaf ya William” dengan itu ia segera berlari.

Kalau sibuk kenapa ia tidak mengabaikan ku? tidak lama setelahnya aku sampai di tempat kakek melihat dari pintu tokonya kurasa masih tutup, kalau begitu aku akan melihat kebelakang.

 

“Hey William apa kau datang untuk berlatih?”

 

“Aku bosan di rumah jadi aku ingin berlatih”

 

Ternyata benar kakek Jordy ada di belakang, kurasa ia sedang melakukan latihan rutinnya. Mengikutinya aku melakukan pemanasan dan berlari ringan setelahnya.

 

“Baiklah ayo kita mulai kakek!” mengatakan itu aku melakukan posisi kuda-kuda.

 

Setelahnya aku masih di kalahkan dengan mudah oleh kakek Jordy, SIAL bukan kah ia terlalu kuat untuk usia 50 tahun? Suatu saat nanti aku akan mengalahkannya aku yakin!.

 

“Kalau begitu karena kau kalah maka kau harus membersihkan toko” mengatakan itu dengan yakin ia tertawa setelahnya.

 

Mungkin ini terlihat aneh tapi aku sudah membuat perjanjian bahwa ketika aku menang kakek Jordy akan memberiku 10 koin emas tapi jika aku kalah aku harus membersihkan tokonya, setelah melakukan duel dengannya aku telah menerima hasil pahit yaitu 50x kekalahan 0x seri dan 0x kemenangan.

 

Setelah membersihkan tokonya aku menemui kakek Jordy di dapur dan ikut makan dengannya, hal ini sudah biasa ketika aku bermain kesini.

 

“William aku harap kau hati-hati, kudengar monster di hutan mulai meningkat”

 

Lagi-lagi peringatan itu, baiklah aku akan hati-hati dan aku sudah dengar itu tadi. Selanjutnya aku melakukan obrolan biasa dengan kakek Jordy.

 

“Kalau begitu aku pergi dulu ya… aku harus ke guild”

“Tangkap ini…”

 

Tiba-tiba kakek Jordy melemparkan kantung, ketika ku buka ternyata isinya 3 koin perak. Bingung dengan ini aku menoleh kan kepala, tapi kakek Jordy segera memasuki tokonya kalau begitu ini pasti hadiah karena telah membersihkan tokonya dan aku kembali berjalan seperti tujuan awal ku, yaitu ke guild.

 

*********************

Pembaca di harap mengomentari karya ini.

Komentar dapat membuat noveli ini berlanjut.

10 komentar untuk “Chapter 3 – Permulaan”

  1. Mungkin agal terlalu cepat.. tapi wajar aja karena di awal jadi biasanya emang cepat alurnya… kalau bisa sedikit dijelaskan tentang karakter karakter yang ada ketika mereka muncul

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *