Chapter 2 – Pengalaman pertama

Akhirnya aku menjadi seorang ibu, tapi perasaan aneh apa ini?mungkinkah ini yang di sebut sebuah kebahagian? tanpa sadar air mata keluar. Ke-kenapa? air mata ku mengalir dengan deras…

 

“Selamat atas kelahirannya nyonya Cristina..”

 

“Hmm, terimakasih bantuannya, apa menurut mu ia manis?”

 

“Ya aku pikir juga begitu…” wanita yang telah membantu persalinan ku tersenyum.“jadi apa anda telah memberi nama kepada anak ini?”

 

“Belum…” jawab ku dengan suara rendah.“sampaikan kepada tuan Ramirez apa ia ingin memberi nama anak ini, karena bagaimanapun ia masihlah ayah dari bayi ini”

 

“Kalau begitu saya akan pergi keluar”

 

Dengan begitu Angelica keluar dari ruangan ini, mataku tertuju pada bayi kecil ku yang saat ini masih tertidur dengan lelap. Dengan ini ku harap dia akan mendapat keberuntungan yang lebih baik dari ibu nya yang seorang budak.

 

Tapi meski begitu dia hanya sekedar alat yang akan di gunakan oleh orang itu demi mencapai kedudukan yang lebih tinggi tapi entah kenapa hati ku mulai terasa sesak. Aku sadar bahwa anak ini akan di besarkan dengan tujuan itu dan aku sudah bersiap mengubur perasaan ini… tapikenapa rasanya sesakit ini? apa ini perasaan seorang ibu…

 

Tanpa sadar air mata mulai mengalir lagi dan di ikuti dengan suara cegukan.

 

“Ibu minta maaf nak tidak bisa membesarkan mu seperti anak-anak yang lain…”

 

Mengatakan itu kupikir ia akan mengerti tapi yang ia lakukan saat ini malah tertidur dengan lelap. Tanpa terasa langit telah berganti warnamenjadi lebih gelap dan aku merasakan kantukyang membuat ku ikut tertidur.

Cahaya menerobos masuk melalui celah-celah dinding dan membuat ku terbangun,mengangkat tubuh ku dan melihat ke arah jendelaaku membukanya.

 

“Huff rasanya segar” ujar ku dan mengeluarkan kepala ku untuk menghirup udara segar pagi hari.

 

Tok tok tok.

 

Siapa yang akan masuk saat ini? apa Angelica bukan kah ini terlalu pagi?.

 

GBRAKKK!!!

 

Tubuh ku sedikit tersentak tapi tidak biasanya seorang sus…. ternyata orang itu ya… tanpa sadar aku menundukkan kepala dan bersujud di hadapannya.

 

“Ternyata kau masih hidup ya” mengatakan dengan suara yang terlihat acuh dan dingin.

 

Mengabaikan keterkejutan ku, aku menjawab dengan sopan. “Ya tuan, anak ini lahir dengan sehat”

 

Melihat keadaannya wajahnya tiba-tiba mengeluarkan ekspresi jijik seolah mengatakan ‘kenapa yang keluar malah seperti ini?’ tapi segera ia mengembalikan ekpresi nya yang terkejut ke ekspresi yang dingin.

 

“Suster cepat periksa anak ini..”

 

Dengan segera suster Angelica menggendong bayi ku dan meletakkan tangannya pada sebuah receiver berbentuk bulat untuk mengukur sihirnya, tanpa waktu lama bola cahaya itu mengeluarkan warna yang dapat terlihat dan yang terlihat adalah warna putih dengan cahaya yang kecil.

 

“Tidah hanya berwajah buruk tapi bahkan dia tidak memiliki sihir yang memadai… percuma percobaan ini kulakukan” cercanya tanpa belas kasih. “tapi untungnya Maura telah melahirkan anak perempuan ku yang cantik dan kuat terlebih ras nya adalah murni manusia… hahaha” sebuah tawa merendahkan dapat terdengar setelahnya

 

“Jadi apa yang selanjutnya harus saya lakukan tuan?”

 

Dengan ekspresi dingin ia melemparkan sebuah kantung, membukanya segera aku melihat kunci dan beberapa koin emas.

 

“Jauhi keluarga ku dan pergilah… aku tidak peduli pada anak itu jika kau ingin membunuh atau menjualnya aku tidak peduli, seperti perjanjian jika kau telah melahirkan anak,aku dengan sukarela akan membebaskan mu dan memberi uang juga”

 

“Ta-tapi apa anda memiliki nama untuk a-anak ini?” suara ku keluar dengan terbata-bata.

 

“KAU BODOH!!! TENTU SAJA AKU TIDAK MAU MENAMAI ANAK MENJIJIKKAN INI!” tanpa menoleh ia keluar dari pintu.

 

Lalu suster Angelica pun mengikutinya.

 

“Mama minta maaf ya… kau harus hidup lebih sulit lagi bersama ibu… hikshiks”

 

Entah kenapa air mata ku beberapa waktu ini mudah keluar. Anak ini… anak ku akan menjalankan kehidupan yang berat tapi kenapa dewa memberi kehidupan yang lebih berat lagi…

 

Oee oeee oeee

 

Mungkin suara ku terlalu keras dan membuatnya terbangun, kalau begitu ibu akan menyusui mu…Ketika menyusui nya aku menemukan nama yang indah bagi nya, aku ingin menamai anak ini William yang berarti tekad untuk melindungi.

 

“William aku ingin kamu tumbuh besar dan dapat melindungi diri mu sendiri ketika besar nanti” setelah memberikan nama aku memeluk William.

 

William terlihat bahagia dan ia tertawa… walau aku tidak tahu apa kah itu sebuah tawa atau bukan tapi ia tidak menangis. Terimakasih dewa telah memberi sebuah pengalaman pertama yang begitu berharga sebagai seorang ibu.

 

Esok harinya aku meninggalkan kuil dan berterimakasih kepada Angelica, saat ini aku tidak memiliki tujuan tapi Angelica menyarankan ku pergi ke guild petualang karena banyak pekerjaan yang dapat ku ambil, baiklah! tujuan telah di putuskan.

 

Beberapa menit berlalu dan aku sampai di sebuah bangunan yang terlihat lebih tinggi dari bangunan lainnya. Meski ragu aku memaksakan diri untuk masuk, di dalam bangunan terlihat banyak meja dan beberapa orang yang disebut sebagai petualang tengah menikmati makanan, menghampiri seorang pria aku bertanya.

 

“Permisi tuan apa anda tahu dimana tempat pendaftaran?”

 

Aku tahu bahwa aku berasal dari ras iblis dan banyak yang tidak menyukai ku tapi… demi William aku telah membulatkan tekad ku.

 

“Jadi anda ingin mendaftarsebagai petualang ya?”

 

“Benar tuan aku ingin bekerja sebagai petualang” ternyata jawaban dari pria itu cukup ramah, lebih baik dari pada yang ku duga.

 

“Tidak perlu terlalu hormat kepada ku… sebut saja nama ku Astaroth” jawab nya dengan nada yang bersahabat dan jarinya mulai menunjuk ke suatu arah.

 

“Terimakasih Astaroth… kalau begitu aku akan pergi ke arah yang kau tunjukkan”

 

“Oh iya siapa nama mu?”

 

“Nama ku Cristina dan nama anak ini adalah William”

 

“Ap-apa jadi bawaan yang  kau bawa itu seorang bayi?”

 

Nampaknya Astaroth terkejut bahwa William yang ku tutupi dari tadi merupakan seorang bayi. Tapi itu bukan lah hal yang perlu di permasalahkan.

 

“Baiklah Cristina izinkan aku membantu mu” dengan itu ia berdiri meninggal kan teman dan makanan yang tersisisa dan menuntun ku ke arah loket pendaftaran, beberapa siulan dapat terdengar dari orang yang satu meja dengan Astaroth. Nampaknya banyak antrian tapi ketika Astaroth berjalan beberapa orang mulai menghindar untuk memberi jalan, entah siapa dia aku tidak mengetahuinya tapi aku yakin dia orang yang baik.

 

“Marina tolong bantu pendaftarannya”

 

Seorang wanita yang cukup cantik segera menghampiri Astaroth.

 

“Baik Astaroth tapi jangan macam-macam ya kepada wanita ini!” mengatakannya dengan wajah cemberut.

 

“Ma-mana mungkin… kita baru saja menikah dan aku sangat mencintai mu jadi tidak akan ada yang namanya selingkuh… ya benar tidak ada selingkuh… aku yakin” dengan menganggukkan kepalanya ia berusaha meyakinkan Marina.

 

“Baiklah aku mempercayaimu, kalau begitu silahkan isi formulir ini jika sudah serahkan kepada ku.. tapi aku minta maaf karena loket sibuk aku tidak bisa membantu”

 

“Tidak masalah aku bisa melakukannya sendiri”

 

“Tenang saja aku akan membantunya” Astaroth memukul dadanya seolah-olah ia adalah tameng yang bisa di andalkan.

 

Dengan itu Marina segera pergi ke loket.

 

“Apa kau bisa membaca?”

 

“Aku bisa membaca anda tidak perlu khawatir”

 

Dengan itu aku mengisi formulir yang berada di depan ku, tapi entah kenapa Astaroth masih belum kembali kemejanya, apa dia ingin memastikan sampai aku selesai mendaftar?. Beberapa menit telah terlewati aku menyelesaikannya dan memberikannya pada Marina.

 

“Kalau begitu silahkan letakkan tangan anda pada receiver ini”

 

Mengikuti perkataannya aku meletakkan tangan ku di receiver dan  segera setelahnya bola kristal itu mengeluarkan cahaya merah yang cukup terang.

 

“Kalau begitu kartu anda akan selesai di cet…”

 

“Tunggu Marina kenapa kita tidak mengukur sihir anak ini juga?”

 

“Ap- jadi itu adalah bayi?” terlihat syok seperti Astaroth aku mengabaikannya.

 

“Ya tidak apa tapi apa di perbolehkan oleh guild?”

 

“Karena dia tidak mendaftar maka tidak apa.. mungkin nanti anak ini juga akan menjadi petualang yang hebat bukan? Jadi kenapa kita tidak ukur sekalian?”

 

“Kalau begitu baiklah”

 

Meski aku sudah mengetahui hasilnya tapi aku berharap receiver kuil rusak dan segera menempelkan tangan William ke benda itu dan tiba-tiba cahaya dari kristal sangat terang, mata ku dan orang-orang melebar terkejut dan yang membuat kejutan ini tentu William, aku sudah tahu ia mempunyai sihir berwarna putih tapi terkejut karena ini berbeda jauh dari hasil yang kemarin, tanpa waktu yang lama cahaya itu mengecil seperti cahaya yang terlihat di kuil.

 

“Maaf mungkin alatnya rusak… tidak biasanya benda ini mengeluarkan hasil yang tidak jelas”

 

“Tidak apa..”

 

Dengan itu aku telah resmi menjadi anggota guil petualang, untuk saat ini aku akan mencari penginapan.

 

“Terimakasih Astaroth dan juga Marina”

 

“Tidak apa-apa… kalau perlu bantuan jangan sungkan bertanya pada Marina”

 

“Benar jangan sungkan Cristina”

 

Setelah itu aku pergi tapi ketika aku mulai menjauh aku melihat wajah Astaroth menjadi nampak terlihat serius, mungkin karena alat mahal telah rusak artinya kekuatan para pendaftar tidak dapat di ketahui, meski begitu itu bukan urusan ku. Aku harus segera pergi mencari penginapan.

 

 

***

 

Di sebuah malam yang gelap ada dua orang pria yang bertemu.

 

“Bagaimana laporan hari ini Astaroth?”

 

“Aku menemukan bayi dengan sihir yang aneh warnanya putih”

 

“Bukan kah itu normal?”

 

“Yang tidak normal adalah intensitas sihirnya ketika di ukur pertama kali itu sangat terang tapi setelahnya ia meredup”

 

“Menurut mu apa alatnya rusak?”

 

Dengan suara tidak yakin orang di sebelah Astaroth menanyakan itu.

 

“Tidak… aku pada awalnya berpikir bahwa alat itu rusak tapi ternyata tidak, aku berani menjamin itu”

 

“Lalu laporan lainnya?”

 

“Anak dari bangsawan Ramirez memiliki sihir yang kuat dan ia memiliki tiga warna”

 

Terdengar terkejut orang di sebelah Astaroth segera menenangkan dirinya meski ia tidak mempercayai itu tapi yang mengatakannya adalah teman baiknya.

 

“Kalau begitu aku akan melaporkannyan pada raja dan tolong awasi kedua anak itu, terutama yang memiliki sihir berwarna putih”

 

“Baiklah”

 

Dengan itu obrolan berakhir dan kedua orang itu berpisah di keheningan malam.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *