Chapter 1 – Sebuah Awalan

Di suatu malam yang gelap hujan lebat turun bersamaan dengan petir yang terdengar. Namun bangunan yang kokoh melindungi orang-orang dari hujan lebat malam ini, sebuah rungan luas yang berisi dekorasi dan beberapa ornamen mewah tersusun di ruangan.

 

Di tengah ruangan terdapat seorang pria yang tengah duduk di singgah sana dengan wajah tenang dan beberapa ajudannya yang menemani nya.

 

“Bukankah malam ini cuacanya sedikit buruk Tempest?”

 

“Aku setuju dengan anda yang mulia”

 

Di tengah keheningan, terdengar suara dari zirah armor yang bertabrakan membuat suara dentuman logam dan setelahnya di ikuti oleh perdebatan.

 

“Ada apa Tempest? apa ada seorang utusan yang di jadwalkan datang?”

 

“Maaf yang mulia saya yakin bukan itu karena kerajaan beast masih belum memberikan keputusan untuk kerjasama dengan kerajaanAskatik”

Sementara di luar ruangan terdengar suara memohon dari seorang laki-laki.

 

“Aku mohon biarkan aku bertemu raja atau paling tidak buka kan pintunya agar raja dapat mendengar suaraku…”

 

Meski begitu penjaga pintu tidak akan membiarkan si pria masuk demi keselamatan raja mereka.

 

“Tempest tolong urus keributan ini”

 

Tanpa mengatakan apapun Tempest menuju ke arah pintu.

 

“Ada keributan apa ini? , tidak sadarkah ulah kalian telah membuat raja tidak nyaman?”

 

Seketika keributan berakhir dan terlihat seolah-olah tidak pernah terjadi, penjaga pintu ataupun pria yang mencoba masuk pun segera berlutut kepada Tempest. Tempest merupakan seorang kepala kesatria royal guard tertinggi yang mengemban tugas untuk melindungi keluarga kerajaan.

 

“Jelaskan pada ku wahai prajurit tentang alasan mu mengganggu istirahat yang mulia raja”

 

Prajurit yang dari tadi telah berlutut berdiri dengan gemetar, wajahnya terlihat pucat serta tubuhnya terlihat menggigil setelah mengetahui bahwa kepala royal guard berada di depannya.

 

“Ma-a a maaf kan sikap ku tuan Tempest sa-saya hanya mendapat pesan dari penyihir Merlin”

 

Raja yang terlihat tenang tiba-tiba berdiri dan ajudan lainnya yang melihat raja pun terkejut dan berpikir ‘kenapa yang mulia sampai terkejut seperti itu?’.

 

“P-penyihir Merlin mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa dunia ini, bencana yang telah terjadi ratusan tahun silam akan terulang kembali”

 

Semua yang ada di ruangan itu akhirnya tanpa sadar melebarkan matanya setelah mendengar itu, suara kecemasan mulai terdengar dimana-mana. Raja yang telah terkejut dari tadi menenangkan pikirannya dan langsung mengambil alih suasana di dalam ruangan.

 

“Semuanya tenangkan diri kalian…”

 

Sebuah kata yang di keluarkan oleh raja segera membuat keadaan menjadi tenang kembali.

 

“Wahai prajurit apa benar yang kau katakan itu?”

 

“Benar yang mulia, saya berani bersumpah atas nyawa ku ini!”

 

Mengatakan hal seperti itu si prajurit merogoh kantong yang telah terlilit di sekitar pinggangnya dan mengeluarkan sebuah benda berbentuk bulat dan sedikit transparan.

 

“Ini buktinya yang mulia, saat itu penyihir Merlin mengatakan untuk menyampaikan pesan ini segera…”

 

“Lalu apa lagi”

 

“Setelah itu penyihir Merlin menghembuskan nafas terakhirnya… saya minta maaf yang mulia bahwa hanya itu saja yang dapat saya dengar”

 

“Tidak apa terimakasih telah menyampaikan ini, dan perkenalkan nama mu”

 

“Ba-baiklah nama saya adalah Riot, Riot Brook kesatria di bawah pimpinan tuan Astaroth”

 

“Untuk tanda terimakasih aku sebagai raja akan memberikan libur khusus kepada mu selama 2 hari”

 

“Anda terlalu bermurah hati kepada saya yang seorang rakyat jelata, terimakasih yang mulia”

 

Dengan itu ajudan membuat tanda bukti dan memberikan pada Riot, pintu yang tadi terbuka kembali di tutup dan raja kembali pada posisi duduknya di temani oleh Tempest disisinya.

 

“Tempest bencana apa yang akan menimpa dunia ini?”

 

“Saya tidak dapat menebaknya apakah yang di maksud bencana alam atau bencana lainnya.. tapi ini hanyalah sebuah ramalan saja bukan?”

 

Tempest berbicara seperti itu untuk menenangkan raja tapi hatinya saat ini pun terasa tidak tenang.

“Aku setuju dengan mu tapi yang ku khawatirkan adalah apabila yang dimaksud itu adalah kebangkitan raja iblis SATAN, terlebih ini merupakan ramalan Merlin sang penyihir”

 

“….” Tempest yang mengetahui fakta itu hanya terdiam dan tidak dapat menjawab pernyataan raja.

 

“Jika begitu kita harus bersiap, aku ingin kau mengawasi setiap potensi anak-anak yang baru lahir baik itu dari sihir ataupun kapasitasnya serta anak-anak yang terlihat mempunyai kemampuan bertarung di atas rata-rata… aku percayakan tugas ini kepada mu Tempest”

 

“Baik yang mulia”

 

Percakapan raja dan Tempest berakhir, pada saat itu hujan di langit pun terhenti dan petir yang terus menyambar berhenti dan langit malam kembali cerah.

 

***

 

Di malam yang sunyi hujan di kotaRubio telah berakhir beberapa orang mulai terburu-buru untuk memasuki kuil dengan tujuan meminta pengobatan. Di dunia ini seseorang dapat menyembuhkan penyakitnya di kuil baik itu luka pertarungan ataupun racun yang di dapat dari monster.

 

“Selamat datang tuan Ramirez ada keperluan apa kemari?”

 

Seorang pria berbadan gempal yang mengenakan tuxedo turun dari kereta kuda.

 

“Istri ku akan segera melahirkan cepat siapkan semuanya” dengan perkataan yang terasa acuh Ramirez memerintahkan pendeta yang ada di depannya.

 

“Saya mengerti tuan Ramirez silahkan masuk kesini” dengan segera pendeta menuntun Ramirez ke tempat persalinan.

 

Dalam ruang persalinan terdapat 2 kasur, alasannya jika ingin memakai kuil sebagai persalinan maka seseorang diharuskan membayar 20 koin perak. Dikarenakan ini adalah sebuah kota yang jauh dari kerajaan sehingga ekonomi tidak berjalan dengan cepat,karena biaya yang cukup tinggi beberapaorang lebih memilih bersalin sendiri dengan bantuan saudara atau teman yang terbiasa melakukan persalinan.

 

“Silahkan baringkan nyonya Maura disini”

 

Mengikuti perkataan pendeta seorang wanita bernama Maura segera berbaring di atas kasur sementara pendeta pergi keluar dan di gantikan oleh beberapa suster yang masuk ke dalam ruangan, dengan ini persalinan di mulai.

 

“Suster Angelica tolong siapkan air hangat dan bawa beberapa kain untuk menyerap darahnya dan beberapa ramuan penyembuh”

 

“Baik suster kepala”

 

Sementara itu Ramirez hanya bisa mondar mandir menunggu proses persalinan istrinya. Di sisi ruangan lain seorang wanita mengerang kesakitan tapi itu bukan lah Maura.

 

“Tuan Ramirez mohon tenangkan diri anda, sebentar lagi proses persalinan selesai”

 

“Tapi apa istriku baik-baik saja!”

 

“Aku yakin baik-baik saja”

 

Sementara itu teriakan yang terdengar dari ruang sebelah mulai meredup. Suster Angelica yang mengetahui itu mulai sedikit khawatir akan keadaan pasien di ruang sebelah.

 

“Suster kepala bagaimana tentang wanita yang melahirkan disebelah?” Angelica bertanya dengan khawair berharap agar wanita di ruangan sebelah mendapat pertolongan juga.

 

“Abaikan dia fokus lah pada nona Maura… jika kau ingin, kau bisa membantunya sendiri tapi jangan pakai peralatan yang ada di ruangan ini” dengan dingin suster kepala menjawab.

 

Sementara di ruangan sebelah seorang wanita bernama Cristina sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.

 

“Hey nak tolong jangan buat ibu mu kesusahan ya…” dengan rasa sakit yang di tahan Cristina tersenyum.

 

Beberapa waktu telah berlalu, ia awalnya berniat untuk melakukan persalinan di hutan namun di perjalanannya ia bertemu dengan seorang suster dan di anjurkan menggunakan gudang tidak terpakai di kuil.

 

“Ayo ayo keluar nak… dan lihatlah indahnya dunia ini”

 

Dengan rasa sabar ia berusaha menahan rasa sakit yang tengah ia rasakan tanpa sedikitpun merasa kecewa atau terbebani.

 

Gubrakkk

 

Suara pintu terbuka dan terlihat sosok seorang suster berambut pirang yang membawa beberapa peralatan.

 

“Yo suster ada keperluan apa? aku mohon maaf tapi jika di suruh pindah itu akan sangat merepotkan bagi ku…” dengan keadaan yang tidak mendukung untuk berpergian Cristina memberi penjelasan.

 

“Alasan ku kemari untuk membantu mu, pertama atur nafas dan keluarkan perlahan lalu segera dorong keluar bayinya”

 

Dengan cekatan suster Angelica mengarahkan Cristina dalam proses persalinannya, sementara itu ia menyeka keringat dan darah yang berceceran. Tanpa di sadari Cristina telah mengeluarkan kepala jabang bayi dan suster Angelica yang tengah fokus membersihkan, meninggalkan pekerjaannya dan segera membantu.

 

“Nyonya tolong minum ramuan ini”

 

Suster Angelica memberikan ramuan penambah stamina atau position MP untuk memulihkan kesadaran Angelica.

 

Oeee oeee

 

Sebuah tangisan dapat terdengar dan di ikuti dengan perasaan lega dari Angelica dan Cristina yang telah melewati masa-masa berat itu.

 

 

Satu pemikiran pada “Chapter 1 – Sebuah Awalan”

Tinggalkan Pesan